TUJUH RAJA DALAM WAHYU 17: SIAPAKAH RAJA-RAJA MISTERIUS INI, DAN MENGAPA TUHAN MENGUNGKAPKAN MEREKA?
TUJUH RAJA DALAM WAHYU 17: SIAPAKAH RAJA-RAJA MISTERIUS INI, DAN MENGAPA TUHAN MENGUNGKAPKAN MEREKA?
Ada sebuah bagian dalam kitab Wahyu yang telah membingungkan para pembaca Alkitab selama beberapa generasi.
Seorang malaikat memberi tahu Yohanes bahwa binatang itu berkepala tujuh, dan kemudian memberikan penjelasan yang terdengar hampir seperti teka-teki nubuatan:
“Tujuh kepala itu adalah tujuh gunung, yang di atasnya perempuan itu duduk, dan ada tujuh raja.”
Lalu muncullah pernyataan yang membuat misterinya semakin dalam:
“Lima telah jatuh, dan yang satu masih ada, dan yang lainnya belum datang.”
Tunggu.
Lima telah jatuh.
Ada yang hadir.
Satu masih akan datang.
Siapakah tujuh raja ini?
Apakah mereka tujuh penguasa individual?
Tujuh kerajaan?
Tujuh kerajaan?
Tujuh kekuatan politik?
Dan mengapa Wahyu mengatakan bahwa salah satu dari mereka “sudah ada” sementara yang lain “belum datang”?
Mari kita buka misteri ini secara hati-hati tanpa memaksa teks untuk mengatakan apa yang tidak dikatakannya.
BAGIAN YANG MEMULAI MISTERI
Wahyu 17 menggambarkan seorang wanita yang duduk di atas seekor binatang berwarna merah tua.
Binatang itu mempunyai tujuh kepala.
Sepuluh tanduk.
Dan wanita diasosiasikan dengan kerusakan spiritual dan duniawi yang besar.
Kemudian malaikat itu mulai menjelaskan penglihatannya kepada Yohanes.
Wahyu 17:9 mengatakan:
“Tujuh kepala itu adalah tujuh gunung yang di atasnya perempuan itu duduk.”
Kemudian ayat 10 mengatakan:
“Dan ada tujuh raja: lima sudah jatuh, dan satu masih ada, dan yang lainnya belum datang; dan ketika dia datang, dia harus melanjutkan perjalanannya untuk waktu yang singkat.”
Di sinilah misterinya dimulai.
Malaikat tidak sekadar berkata, “Inilah tujuh raja.”
Dia memberi John sebuah urutan.
Lima.
Satu.
Satu.
Dan kemudian muncul pernyataan misterius lainnya:
“Dan binatang yang telah ada dan yang belum ada, dialah yang kedelapan dan termasuk yang ketujuh.”
Sekarang kita memiliki:
Tujuh raja.
Lalu entah bagaimana:
Yang kedelapan milik tujuh.
Apa sebenarnya yang dilihat John?
PERTAMA, KITA HARUS HATI-HATI
Ini adalah salah satu bagian di mana orang bisa menjadi terlalu percaya diri.
Sepanjang sejarah, banyak penafsir mencoba mengidentifikasi tujuh raja dengan penguasa atau kerajaan tertentu dalam sejarah.
Beberapa telah mengusulkan kaisar Romawi.
Yang lain menghubungkan tujuh kepala dengan kerajaan besar dunia.
Yang lain menafsirkan kepala secara simbolis sebagai kerajaan berturut-turut atau manifestasi kekuatan politik yang anti-Tuhan.
Ada perdebatan serius mengenai identifikasi yang tepat.
Oleh karena itu, kita harus membedakan antara:
Apa yang diungkapkan secara tegas oleh Wahyu
Dan
apa yang diyakini oleh seorang penafsir yang diwakili oleh simbol-simbol itu.
Perbedaan itu penting.
APA ARTINYA “TUJUH RAJA”?
Kata Yunani yang diterjemahkan “raja” dapat memaksudkan penguasa atau penguasa kerajaan.
Jadi pengertian yang paling jelas adalah bahwa penglihatan tersebut melibatkan tujuh raja atau penguasa.
Namun ada komplikasi penting.
Tujuh kepala yang sama juga digambarkan sebagai tujuh gunung.
Artinya Wahyu menggunakan gambaran simbolik yang dapat membawa lebih dari satu makna terkait.
Tujuh kepala melambangkan tujuh gunung.
Mereka juga mewakili tujuh raja.
Ini tidak berarti bahwa tujuh gunung literal secara diam-diam adalah tujuh individu laki-laki.
Wahyu adalah kitab yang penuh dengan gambaran simbolis.
Pertanyaannya adalah:
Realitas apa yang ditunjukkan oleh simbol tersebut?
“LIMA YANG JATUH”
Ini mungkin bagian yang paling kontroversial.
Malaikat berkata:
“Lima jatuh.”
Itu berarti lima dari tujuh sudah hilang dari sudut pandang kenabian Yohanes.
Kemudian:
“Satu adalah.”
Seseorang ada pada saat penglihatan itu terjadi.
Kemudian:
“Yang lainnya belum datang.”
Yang satu masih masa depan.
Dan ketika yang terakhir itu tiba:
“Dia harus melanjutkan dalam waktu singkat.”
Ini memberi kita rangkaian nubuatan.
LIMA, MASA LALU
Lima sudah jatuh.
SATU, HADIR
Seseorang ada pada waktu yang diwakili oleh visi.
SATU, MASA DEPAN
Yang lain belum muncul.
KEMUDIAN, KEDELAPAN
Binatang itu muncul sebagai yang kedelapan tetapi terhubung dengan yang ketujuh.
Itulah struktur yang diberikan Wahyu kepada kita.
TAPI SIAPA YANG LIMA?
Di sinilah kita harus menolak berpura-pura bahwa Kitab Suci memberi kita daftar nama.
Tidak.
Wahyu 17 tidak pernah mengatakan:
“Raja nomor satu adalah orang ini.”
“Raja nomor dua adalah orang ini.”
“Raja nomor tiga adalah orang ini.”
Dan sebagainya.
Oleh karena itu, siapa pun yang dengan yakin memberikan tujuh nama seolah-olah Wahyu sendiri secara eksplisit mengidentifikasi mereka, berarti melampaui apa yang sebenarnya dikatakan dalam teks.
Namun, sepanjang sejarah Kristen, para penafsir telah mengajukan kemungkinan-kemungkinan berbeda.
Salah satu pendekatan terkenal menghubungkan ketujuh kerajaan tersebut dengan kerajaan atau imperium besar yang secara historis menentang umat Tuhan.
Pendekatan lain melihat ketujuh orang tersebut sebagai suksesi penguasa yang terkait dengan dunia Romawi.
Yang lain memahaminya secara lebih simbolis sebagai ekspresi berulang-ulang dari kekuatan politik yang menentang Tuhan.
Poin pentingnya adalah ini:
Teks ini memberi kita pola kenabian dengan lebih jelas daripada memberikan kita identifikasi sejarah.
MENGAPA “SATU ITU” PENTING?
Ungkapan kecil ini sangat penting.
“Satu adalah.”
Yohanes diperlihatkan sesuatu dari sudut pandang kenabian tertentu.
Salah satu dari tujuh saat ini hadir.
Inilah sebabnya mengapa beberapa penafsir mencoba mengidentifikasi urutan tersebut dengan penguasa yang ada di sekitar periode sejarah Yohanes.
Namun sekali lagi, terdapat komplikasi karena penglihatan Wahyu dapat memampatkan, menyimbolkan, dan memproyeksikan peristiwa-peristiwa di luar keadaan historis Yohanes.
Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam mengubah satu penafsiran menjadi doktrin absolut.
RAJA KETUJUH
Malaikat berkata:
“Yang lain belum datang; dan bila dia datang, dia harus melanjutkan perjalanan sebentar.”
Itu sangat menarik.
Yang ketujuh tidak memerintah tanpa batas waktu.
Otoritasnya bersifat sementara.
Ini cocok dengan salah satu tema utama di seluruh kitab Wahyu:
Kejahatan mungkin menerima otoritas, namun kejahatan tidak menerima otoritas tertinggi.
Binatang itu tampak kuat.
Raja bangkit.
Kerajaan menjalankan otoritas.
Kekuatan politik mendominasi.
Namun otoritas mereka tetap berada di bawah jadwal kedaulatan Tuhan.
KEMUDIAN DATANGLAH BAGIAN YANG PALING MISTERIUS
Wahyu 17:11 mengatakan:
“Dan binatang yang telah ada dan yang belum ada, dialah yang kedelapan dan termasuk yang ketujuh.”
Pikirkan tentang itu.
Ada tujuh raja.
Kemudian binatang itu digambarkan sebagai binatang kedelapan.
Tapi yang kedelapan entah bagaimana:
“dari tujuh.”
Bagaimana bisa sesuatu menjadi yang kedelapan dan tetap menjadi milik ketujuh?
Inilah salah satu alasan mengapa bagian ini menghasilkan begitu banyak penafsiran.
Bahasanya menunjukkan hubungan antara binatang itu dan tujuh binatang sebelumnya.
Binatang itu bukan sekadar penguasa kedelapan yang tidak ada hubungannya dan muncul entah dari mana.
Dia entah bagaimana mewakili atau mewujudkan kekuatan pemberontakan yang sama yang terkait dengan ketujuh orang tersebut.
PESAN YANG LEBIH BESAR MUNGKIN LEBIH PENTING DARIPADA NOMOR
Kadang-kadang kita menjadi begitu terpesona dalam mengidentifikasi setiap simbol sehingga kita kehilangan apa yang sebenarnya dikomunikasikan oleh Wahyu.
Ketujuh raja tersebut tidak dihadirkan agar umat beriman terobsesi dengan spekulasi politik.
Pesan yang lebih besar adalah bahwa kerajaan manusia bangkit dan runtuh, namun kerajaan Allah pada akhirnya menang.
Binatang itu terlihat sangat kuat.
Raja-raja tampak berkuasa.
Babel tampak kuat.
Namun tidak satu pun dari mereka yang memiliki keputusan akhir.
Wahyu berulang kali mengambil apa yang tampak tak terkalahkan di bumi dan menunjukkan penghakiman akhirnya.
SEPULUH TANDA MEMBUAT CERITANYA LEBIH SERIUS
Wahyu 17 juga berbicara tentang sepuluh tanduk.
Ayat 12 mengatakan sepuluh tanduk adalah sepuluh raja yang belum menerima kerajaan, tetapi menerima kekuasaan untuk waktu yang singkat dengan binatang itu.
Jadi sekarang kita punya:
Tujuh kepala.
Tujuh raja.
Sepuluh tanduk.
Sepuluh raja.
Dan binatang itu.
Ini bukan gambaran acak.
Hal ini memberikan gambaran tentang kekuatan politik yang terkonsentrasi dan bersatu untuk menentang tujuan Tuhan.
Namun kewenangan mereka bersifat sementara.
MEREKA BERPERANG DENGAN DOMBA
Sekarang sampai pada salah satu pernyataan paling kuat dalam bab ini.
Wahyu 17:14 mengatakan:
“Orang-orang ini akan berperang melawan Anak Domba, dan Anak Domba itu akan mengalahkan mereka.”
Perhatikan kontrasnya.
Binatang itu mempunyai raja.
Binatang itu mempunyai tanduk.
Binatang itu mempunyai kekuatan politik.
Binatang itu mempunyai otoritas.
Namun Anak Domba mempunyai sesuatu yang lebih besar.
Kemenangan.
Mereka berperang melawan Dia.
Anak Domba mengalahkan mereka.
Kemudian Wahyu memberikan alasannya:
“Sebab Dialah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja.”
Inilah inti dari bab ini.
Binatang itu mungkin terlihat kuat.
Namun Yesus adalah Raja di atas segala raja.
INILAH RAHASIA YANG LEWATKAN BANYAK ORANG
Wahyu pada akhirnya tidak mencoba membuat Anda takut terhadap raja.
Ini mencoba membuat Anda memahami supremasi Raja.
Binatang itu melambangkan perlawanan.
Raja mewakili otoritas duniawi.
Babel mewakili kekuatan duniawi yang korup.
Namun Kristus tetap berdaulat.
Pesannya adalah:
Jangan tertipu oleh kekuasaan sementara.
Apa yang terlihat permanen ternyata bersifat sementara.
Apa yang tampak tak terbendung akan jatuh.
Apa yang tampak seperti kemenangan akhir kegelapan pada akhirnya akan menjadi kemenangan Anak Domba.
MENGAPA TUHAN MENGIZINKAN RAJA-RAJA INI BANGKIT?
Wahyu berulang kali memperlihatkan Tuhan menjalankan kedaulatan bahkan ketika kekuatan jahat beroperasi.
Binatang itu menerima otoritas.
Raja menerima otoritas.
Namun kewenangan mereka ada batasnya.
Mereka tidak bisa begitu saja menentukan nasib kekal mereka sendiri.
Tuhan tetap berdaulat atas perkembangan sejarah.
Hal ini seharusnya mengajarkan kita sesuatu tentang generasi kita sendiri.
Kita tidak boleh menaruh harapan utama kita pada pemerintah.
Kita tidak boleh menaruh kepercayaan penuh pada para pemimpin politik.
Kita tidak boleh terlalu terobsesi dengan penguasa duniawi sehingga kita melupakan Raja yang kekal.
Pemerintahan manusia berubah.
Kristus tidak.
TUJUH RAJA BUKANLAH CERITA TERAKHIR
Ini mungkin kesimpulan yang paling penting.
Bahkan jika kita pada akhirnya memahami dengan tepat siapa yang diwakili oleh setiap raja, pesan terakhirnya tetap tidak berubah:
Yesus menang.
Binatang itu tidak menang.
Babel tidak menang.
Sepuluh raja tidak menang.
Sistem anti-Tuhan tidak menang.
Anak Domba menang.
Dan Wahyu 17:14 diakhiri dengan gambaran indah lainnya tentang mereka yang menjadi milik-Nya:
“Mereka yang bersama-sama dengan Dia dipanggil, dipilih, dan setia.”
Lihatlah kata terakhir itu:
Setia.
Di sinilah nubuatan ini menjadi bersifat pribadi.
Karena Wahyu tidak sekedar bertanya:
“Bisakah kamu mengidentifikasi binatang itu?”
Ia juga menanyakan:
“Maukah kamu tetap setia kepada Anak Domba?”
PERINGATAN NYATA BAGI GEREJA
Ada bahayanya mempelajari Wahyu.
Kita bisa menjadi ahli dalam mengidentifikasi simbol-simbol namun menjadi ceroboh terhadap kehidupan rohani kita.
Kita bisa memperdebatkan identitas Antikristus sambil mengabaikan Kristus.
Kita bisa mempelajari 666 sambil mengabaikan kesucian.
Kita bisa mendiskusikan Babel sambil diam-diam mencintai nilai-nilai yang diwakili Babel.
Kita bisa berdebat tentang ketujuh raja namun gagal untuk tetap setia kepada Raja segala raja.
Dan itu sama sekali tidak mencapai tujuannya.
Pertanyaannya bukan sekedar:
“Siapakah ketujuh raja itu?”
Pertanyaan yang lebih dalam adalah:
“Aku milik kerajaan siapa?”
PIKIRAN AKHIR
Tujuh raja dalam Wahyu 17 tetap menjadi salah satu bagian nubuatan paling misterius dalam Kitab Suci.
Teks tersebut dengan jelas memberi kita urutan:
Lima telah jatuh.
Salah satunya adalah.
Satunya belum datang.
Binatang itu digambarkan sebagai yang kedelapan, namun terhubung dengan yang ketujuh.
Namun Kitab Suci tidak memberi kita daftar tujuh nama yang sederhana.
Oleh karena itu, kita harus mempelajari bagian ini dengan hati-hati, mengenali penafsiran utama, dan menghindari menyatakan secara pasti bahwa Alkitab sendiri memberikan ruang untuk penafsiran.
Tapi ada satu hal yang sangat jelas.
Nubuatan ini tidak berakhir pada raja-raja saja.
Itu berakhir dengan Anak Domba.
Para raja mempunyai momennya sendiri.
Binatang itu mempunyai momennya.
Babel memiliki momennya.
Namun Yesus mempunyai kemenangan akhir.
Dia adalah Tuhan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja.
RINGKASAN PENGAJARAN
Wahyu 17 menghadirkan tujuh kepala yang diartikan sebagai tujuh gunung dan tujuh raja. Malaikat menjelaskan bahwa lima telah jatuh, satu masih ada, dan satu lagi akan datang dalam waktu dekat. Bagian ini kemudian memperkenalkan binatang misterius itu sebagai makhluk kedelapan yang terhubung dengan ketujuh.
Identitas historis yang tepat dari ketujuh raja tersebut masih diperdebatkan, dan Wahyu sendiri tidak memberikan daftar nama yang sederhana. Oleh karena itu, kita harus membedakan kepastian alkitabiah dari penafsiran.
Namun pesan utamanya jelas: kekuatan duniawi bersifat sementara, perlawanan terhadap Kristus pada akhirnya akan gagal, dan Anak Domba akan menang.
Oleh karena itu, pertanyaan terbesarnya bukan hanya:
“Siapakah ketujuh raja itu?”
Dia:
“Ketika kerajaan-kerajaan di dunia ini bangkit dan runtuh, akankah aku tetap setia kepada Raja segala raja?”
Apa pemahaman Anda tentang ketujuh raja di Wahyu 17?
Apakah Anda yakin mereka mewakili penguasa sejarah tertentu, kerajaan berturut-turut, atau suksesi simbolis dari kekuatan anti-Tuhan?
Berikan alasan alkitabiah Anda dan mari kita periksa Kitab Suci bersama-sama.
Komentar
Posting Komentar