PEMBAWA DAMAI: IDENTITAS ORANG YANG DISEBUT ANAK-ANAK ALLAH
PEMBAWA DAMAI: IDENTITAS ORANG YANG DISEBUT ANAK-ANAK ALLAH
Nas: Matius 5:9 (TB)
"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."
PENDAHULUAN
Kata damai adalah salah satu kata yang paling sering diucapkan manusia, tetapi juga salah satu yang paling sulit diwujudkan. Hampir semua orang menginginkan damai. Bangsa-bangsa menginginkan damai. Keluarga menginginkan damai. Gereja menginginkan damai. Namun kenyataannya, dunia tetap dipenuhi konflik. Hubungan suami istri retak. Persahabatan hancur. Jemaat terpecah. Bangsa berperang. Mengapa?
Karena kebanyakan orang hanya ingin hidup dalam damai, tetapi tidak mau menjadi pembawa damai. Lebih dari itu, manusia sering mendefinisikan damai sebagai tidak adanya konflik. Padahal menurut Alkitab, damai bukan sekadar keadaan tanpa pertengkaran. Damai adalah keadaan ketika hubungan yang rusak dipulihkan menurut kehendak Allah.
Dalam bahasa Ibrani, damai disebut shalom, yang berarti keutuhan, kesejahteraan, dan hubungan yang dipulihkan. Damai bukan sekadar suasana tenang, tetapi kehidupan yang kembali berada dalam kehendak Allah.
Karena itu Yesus tidak berkata, "Berbahagialah orang yang menyukai damai," atau "Berbahagialah orang yang menikmati damai." Yesus berkata, "Berbahagialah orang yang membawa damai." Artinya, damai bukan hanya sesuatu yang dinikmati, tetapi sesuatu yang diusahakan oleh orang percaya.
Ada beberapa bagian yang bisa kita lihat bersama berkaitan dengan tema ini, oleh karena itu Mari kita melihatnya satu persatu.
1. DAMAI YANG SEJATI BERAWAL DARI PENDAMAIAN DENGAN ALLAH
Yesus menyebut orang yang membawa damai sebagai orang yang berbahagia. Mengapa? Karena damai yang sejati selalu dimulai dari hubungan manusia dengan Allah.
Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, hubungan manusia dengan Allah menjadi rusak. Akar semua konflik antarmanusia sesungguhnya berasal dari konflik manusia dengan Penciptanya. Hati yang telah memberontak kepada Allah akan sulit hidup berdamai dengan sesama. Karena itu, usaha manusia menciptakan perdamaian tanpa menyelesaikan persoalan dosa hanya akan menghasilkan damai yang sementara.
Inilah sebabnya Injil selalu memulai dari pendamaian dengan Allah. Ketika manusia dipulihkan hubungannya dengan Allah, barulah ia dimampukan hidup berdamai dengan sesama. Damai horizontal tidak mungkin bertahan tanpa damai vertikal.
Bahaya yang dapat terjadi adalah seseorang tampak hidup rukun dengan semua orang, tetapi sesungguhnya masih hidup dalam permusuhan dengan Allah karena dosanya belum dibereskan. Damai yang sejati bukan dimulai dari hubungan dengan manusia, tetapi dari hati yang telah diperdamaikan dengan Allah.
2. KRISTUS ADALAH SUMBER DAN DASAR SEGALA DAMAI
Yesus tidak hanya mengajarkan tentang damai. Ia sendiri adalah Damai itu.
Melalui kematian-Nya di kayu salib, Kristus memperdamaikan manusia dengan Allah. Rasul Paulus berkata dalam Kolose 1:20 bahwa Allah "mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus." Salib menjadi tempat di mana permusuhan antara Allah dan manusia diselesaikan.
Karena itu, kemampuan menjadi pembawa damai bukan berasal dari sifat alami manusia. Secara alami manusia lebih suka membalas daripada mengampuni, lebih suka menang daripada berdamai, dan lebih mudah memperbesar konflik daripada menyelesaikannya.
Tetapi ketika seseorang dipersatukan dengan Kristus, Roh Kudus mengubah hatinya. Orang yang telah mengalami damai dengan Allah akan memiliki hati yang semakin menyerupai Kristus. Ia belajar mengampuni, merendahkan diri, mencari rekonsiliasi, dan mengasihi bahkan orang yang menyakitinya.
Seorang pembawa damai bukanlah orang yang menghindari konflik demi kenyamanan. Ia adalah orang yang berani menghadapi konflik dengan kasih dan kebenaran supaya hubungan dipulihkan sesuai kehendak Allah. Damai yang sejati tidak pernah mengorbankan kebenaran demi ketenangan semu.
3. PEMBAWA DAMAI ADALAH BUKTI KEHIDUPAN SEBAGAI ANAK-ANAK ALLAH
Yesus berkata, "Karena mereka akan disebut anak-anak Allah."
Perkataan ini tidak berarti seseorang menjadi anak Allah karena berhasil menciptakan damai. Sebaliknya, menjadi pembawa damai adalah bukti bahwa seseorang telah menjadi anak Allah.
Sebagaimana seorang anak mencerminkan karakter ayahnya, demikian pula orang percaya dipanggil mencerminkan karakter Bapa di surga. Allah adalah Allah yang mendamaikan manusia dengan diri-Nya melalui Kristus. Karena itu anak-anak-Nya juga dipanggil menjadi alat pendamaian di tengah dunia.
Ini berarti orang percaya tidak boleh menjadi penyebar fitnah, pencipta perpecahan, atau pemelihara kebencian. Sebaliknya, ia dipanggil menjadi pribadi yang menyatukan, menguatkan, mengampuni, dan membawa orang kepada Kristus.
Karena itu, omong kosong jika seseorang mengaku telah diperdamaikan dengan Allah tetapi terus menjadi sumber konflik di keluarga, di gereja, di tempat kerja, atau di masyarakat. Orang yang benar-benar telah menerima damai Kristus akan berusaha menghadirkan damai Kristus di mana pun Tuhan menempatkannya.
Menjadi pembawa damai memang tidak selalu membuat kita disukai. Kadang-kadang kita harus menegur dalam kasih, menjadi penengah dalam konflik, atau mengorbankan kepentingan pribadi demi terciptanya rekonsiliasi. Namun justru di situlah karakter Kristus dinyatakan.
Penutup
Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang membawa damai, bukan sekadar berbicara tentang damai. Damai sejati tidak lahir dari kemampuan manusia bernegosiasi, tetapi dari karya Kristus yang telah memperdamaikan manusia dengan Allah melalui salib-Nya.
Hari ini marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah kehadiran saya membawa damai atau justru memperbesar konflik? Apakah perkataan saya membangun atau menghancurkan? Apakah hidup saya mencerminkan karakter Kristus Sang Raja Damai?
Kiranya setiap kita terus hidup dekat dengan Kristus, sehingga damai yang telah kita terima dari-Nya mengalir kepada keluarga, gereja, tempat kerja, dan masyarakat. Sebab dunia akan melihat kemuliaan Allah ketika anak-anak-Nya hidup sebagai pembawa damai.
"Orang yang telah diperdamaikan oleh Kristus tidak akan puas hanya menikmati damai bagi dirinya sendiri, tetapi akan menjadi alat Tuhan untuk menghadirkan damai bagi dunia."
Soli Deo Gloria.
Komentar
Posting Komentar