TEMA: TUHAN MEMELIHARA ORANG YANG SETIA
TEMA: TUHAN MEMELIHARA ORANG YANG SETIA
Teks: Mazmur 31:23b (TB)
"TUHAN memelihara orang-orang yang setia, tetapi orang yang berbuat congkak diganjar-Nya dengan tidak tanggung-tanggung."
PENDAHULUAN
Di dalam ilmu ekologi dikenal sebuah konsep yang disebut sustainability atau keberlanjutan, yaitu kemampuan suatu sistem untuk terus bertahan dan dipelihara dalam jangka waktu yang panjang. Sebuah bangunan dapat bertahan karena dirawat. Sebuah organisasi tetap hidup karena dikelola dengan baik. Sebuah keluarga tetap kokoh karena dipelihara melalui kasih, komitmen, dan kesetiaan. Tanpa pemeliharaan, segala sesuatu pada akhirnya akan mengalami kerusakan.
Prinsip tersebut menolong kita memahami satu kebenaran rohani yang jauh lebih besar. Jika manusia dapat memelihara sesuatu dalam batas tertentu, maka Allah adalah Pribadi yang memelihara umat-Nya secara sempurna. Alkitab berulang kali menyatakan bahwa kehidupan orang percaya tidak bertahan karena kekuatannya sendiri, melainkan karena tangan Allah yang menopang mereka setiap hari. Keselamatan, pertumbuhan iman, bahkan kesetiaan orang percaya berlangsung di bawah pemeliharaan Allah yang berdaulat.
Mazmur 31 ditulis oleh Daud pada masa hidup yang penuh tekanan. Ia mengalami ancaman dari musuh, pengkhianatan dari orang-orang di sekitarnya, dan pergumulan yang membuatnya berseru kepada Tuhan. Namun di tengah penderitaan itu, Daud tidak menaruh harapannya kepada kekuatan manusia. Ia justru menemukan ketenangan karena mengenal siapa Allah yang disembahnya. Pengalaman pribadi itu kemudian menjadi kesaksian bagi umat Tuhan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan orang-orang yang hidup setia kepada-Nya.
Melalui bagian ini kita akan melihat bahwa kesetiaan orang percaya bukanlah usaha untuk memperoleh kasih Allah, melainkan respons terhadap Allah yang terlebih dahulu memelihara umat-Nya dengan kasih setia-Nya.
Ada beberapa bagian yang bisa kita lihat bersama berkaitan dengan tema ini, oleh karena itu Mari kita melihatnya satu persatu.
I. KESETIAAN ORANG PERCAYA BERTUMBUH DI DALAM PEMELIHARAAN ALLAH
Daud berkata, "TUHAN memelihara orang-orang yang setia..."
Kata "memelihara" berasal dari bahasa Ibrani נָצַר (nāṣar), yang berarti menjaga, melindungi, mengawasi dengan saksama, dan mempertahankan dengan penuh perhatian. Kata ini sering dipakai untuk menggambarkan penjaga yang terus berjaga agar sesuatu yang berharga tidak mengalami kerusakan atau hilang.
Menariknya, subjek dari kata kerja ini adalah Tuhan sendiri. Daud tidak berkata bahwa orang setia mampu menjaga dirinya sendiri, tetapi bahwa Tuhanlah yang menjaga mereka. Hal ini menunjukkan bahwa dasar keamanan orang percaya bukan terletak pada kekuatan iman mereka, melainkan pada kesetiaan Allah yang tidak pernah berubah.
Ungkapan "orang-orang yang setia" berasal dari kata Ibrani אֱמוּנִים ('emunim), yang menunjuk kepada orang-orang yang hidup dalam kesetiaan, dapat dipercaya, dan tetap berpegang kepada Tuhan di tengah segala keadaan.
Kesetiaan yang dimaksud bukanlah kesempurnaan tanpa dosa. Daud sendiri pernah jatuh dalam dosa yang besar. Namun hidupnya ditandai oleh pertobatan dan ketergantungan kepada Allah. Orang percaya tetap dapat jatuh, tetapi Allah tidak pernah membiarkan mereka binasa. Ia terus bekerja memelihara iman umat-Nya hingga mereka bertahan sampai akhir.
Karena itu, ketika kita tetap berdiri di tengah pencobaan, sesungguhnya bukan hanya karena kita kuat, tetapi karena tangan Allah terus menopang kehidupan kita.
II. KESOMBONGAN SELALU BERAKHIR PADA PENGHAKIMAN ALLAH
Bagian kedua ayat ini berbunyi, "...tetapi orang yang berbuat congkak diganjar-Nya dengan tidak tanggung-tanggung."
Kata "congkak" berasal dari bahasa Ibrani גַּאֲוָה (ga'avah), yang berarti kesombongan, keangkuhan, atau meninggikan diri di hadapan Allah.
Kesombongan dalam Alkitab bukan sekadar sikap percaya diri yang berlebihan. Kesombongan adalah hati yang tidak lagi bergantung kepada Allah dan mulai menempatkan diri sebagai pusat kehidupan. Orang yang congkak merasa bahwa keberhasilannya berasal dari dirinya sendiri. Ia tidak lagi mengakui anugerah Tuhan dan hidup tanpa rasa takut akan Allah.
Karena itulah Daud mengatakan bahwa Allah "mengganjar" orang seperti itu. Kata ini menunjukkan tindakan penghakiman Allah yang adil. Allah adalah kasih, tetapi Ia juga kudus dan benar. Ia tidak membiarkan kejahatan berlangsung tanpa penghakiman.
Prinsip ini terlihat sepanjang Alkitab. Menara Babel runtuh karena kesombongan manusia. Raja Nebukadnezar direndahkan ketika ia meninggikan dirinya. Herodes mati ketika menerima pujian yang seharusnya hanya layak diberikan kepada Allah.
Firman Tuhan mengajarkan bahwa Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberikan kasih karunia kepada orang yang rendah hati. Di hadapan Tuhan, kerendahan hati selalu menjadi jalan menuju pemeliharaan, sedangkan kesombongan menjadi jalan menuju kehancuran.
III. PEMELIHARAAN ALLAH MELAHIRKAN KETEKUNAN DALAM KESETIAAN
Janji bahwa Tuhan memelihara orang-orang yang setia bukanlah alasan untuk hidup pasif. Justru karena Allah memelihara kita, maka kita dipanggil untuk terus hidup setia kepada-Nya.
Kesetiaan itu tampak dalam hal-hal sederhana: tetap berdoa ketika doa terasa kering, tetap membaca Firman ketika hati sedang lelah, tetap melayani meskipun tidak dihargai, tetap hidup jujur ketika dunia menawarkan jalan pintas, dan tetap mengasihi Kristus ketika mengikuti-Nya harus dibayar dengan penderitaan.
Pemeliharaan Allah tidak berarti hidup tanpa masalah. Daud tetap mengalami pengejaran, air mata, dan pergumulan. Namun di setiap musim hidupnya, Tuhan tidak pernah melepaskan tangan-Nya.
Demikian pula kehidupan orang percaya. Ada kalanya kita kehilangan pekerjaan, menghadapi sakit penyakit, berduka karena kehilangan orang yang dikasihi, atau menghadapi masa depan yang tampak tidak pasti. Namun janji Allah tetap sama: Dia memelihara umat-Nya.
Pemeliharaan Allah bukan hanya membawa kita melewati persoalan hari ini, tetapi juga menjaga iman kita sampai akhirnya kita berdiri di hadapan Kristus dalam kemuliaan.
PENUTUP
Mazmur 31:23b mengingatkan kita bahwa keamanan hidup orang percaya tidak terletak pada kekuatan diri, melainkan pada pemeliharaan Allah yang sempurna. Dunia menawarkan rasa aman melalui kekayaan, jabatan, relasi, dan kemampuan manusia, tetapi semuanya dapat hilang dalam sekejap. Sebaliknya, orang yang hidup di dalam Tuhan memiliki pengharapan yang tidak pernah dapat dirampas, karena Allah sendiri menjadi Penjaga hidupnya.
Karena itu, marilah kita terus hidup dalam kesetiaan kepada Kristus. Tetaplah rendah hati ketika diberkati, tetaplah percaya ketika menghadapi pencobaan, dan tetaplah setia ketika pelayanan terasa berat. Sebab Tuhan yang memanggil kita adalah Tuhan yang juga memelihara kita sampai akhir. Tidak ada satu pun dari umat-Nya yang akan terlepas dari tangan-Nya, karena kesetiaan Allah jauh lebih besar daripada kelemahan kita.
"Kesetiaan orang percaya bukanlah alasan Allah memelihara mereka; kesetiaan itu adalah buah dari Allah yang tidak pernah berhenti memelihara umat-Nya."
Soli Deo Gloria.
Komentar
Posting Komentar