MISTERI ANANIAS DAN SAPPHIRA: APAKAH MEREKA KEHILANGAN KESELAMATAN?
MISTERI ANANIAS DAN SAPPHIRA: APAKAH MEREKA KEHILANGAN KESELAMATAN?
Kisah Para Rasul 5:1–11 mencatat salah satu peristiwa yang paling menakutkan dan kontroversial dalam Gereja mula-mula.
Ananias dan Safira menjual harta miliknya dan membawa sebagian uangnya kepada para rasul. Masalahnya bukan karena mereka menyimpan sebagian uang itu. Peter menjelaskan dengan jelas bahwa properti dan uang itu adalah hak mereka untuk diberikan atau disimpan.
Masalahnya adalah PENIPUAN.
Ananias memberikan uang itu seolah-olah mewakili seluruh jumlah yang diterima, namun diam-diam menyimpan sebagiannya. Peter memberitahunya bahwa dia tidak hanya berbohong kepada orang lain; dia telah berbohong kepada Roh Kudus.
Lalu Ananias terjatuh dan mati.
Belakangan, Safira masuk tanpa mengetahui apa yang terjadi. Peter memberinya kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya, tapi dia mengulangi penipuan yang sama. Dia juga terjatuh dan meninggal.
Hal ini segera menimbulkan pertanyaan serius:
APAKAH ANANIAS DAN SAPPHIRA KEHILANGAN KESELAMATANNYA?
Jawaban yang jujur dan alkitabiah adalah ini:
Kisah Para Rasul 5 tidak secara eksplisit memberi tahu kita bahwa mereka kehilangan keselamatan.
Bagian ini memberitahu kita bahwa mereka diadili karena penipuan yang disengaja, namun tidak secara langsung mengatakan, “Ananias kehilangan keselamatannya,” atau “Safira dijatuhi hukuman neraka.”
Perbedaan itu penting.
Kematian fisik mereka jelas merupakan tindakan penghakiman ilahi, namun kita tidak boleh mengklaim lebih dari apa yang dikatakan Kitab Suci tentang nasib kekal mereka.
Namun, ada peringatan kuat di sini bagi setiap orang percaya.
TUHAN TIDAK HANYA TERTARIK DENGAN APA YANG KITA MEMBERI; DIA TERTARIK DENGAN KEBENARAN DI BALIK APA YANG KITA MEMBERIKAN.
Ananias menginginkan tampilan pengorbanan yang utuh tanpa benar-benar melakukan pengorbanan yang utuh.
Dia ingin terlihat spiritual tanpa bersikap jujur.
Dan di sinilah ceritanya menjadi tidak nyaman.
Kita bisa membuat orang terkesan sambil menipu diri kita sendiri.
Seseorang mungkin tampak berdoa tetapi tidak memiliki pengabdian yang tulus.
Seseorang bisa terlihat murah hati namun mencari pengakuan.
Seseorang dapat tampak berkomitmen kepada Tuhan, namun diam-diam hidup bertentangan dengan-Nya.
Namun Tuhan melihat melampaui apa yang tampak.
ORANG MELIHAT LUAR. TUHAN MELIHAT HATI.
Tragedi Ananias dan Safira bukan sekadar karena mereka menyimpan sejumlah uang.
Mereka sengaja menciptakan gambaran spiritual palsu.
Petrus bahkan berkata:
“Engkau tidak berbohong kepada manusia, tetapi kepada Allah.”
Kisah Para Rasul 5:4
JADI, APAKAH MEREKA KEHILANGAN KESELAMATANNYA?
Kita harus berhati-hati.
Beberapa orang Kristen percaya bahwa kematian mereka menunjukkan bahwa mereka dihukum. Yang lain percaya bahwa mereka mungkin benar-benar milik Tuhan tetapi mengalami penghakiman sementara yang berat.
Namun teks tersebut tidak memberi kita informasi yang cukup untuk menyatakan nasib kekal mereka dengan pasti.
Apa yang diberikan Kitab Suci kepada kita sangatlah jelas:
Allah memandang serius kemunafikan, penipuan yang disengaja, dan ketidakjujuran.
Oleh karena itu, kisah mereka tidak boleh menjadi argumen untuk menyatakan dengan yakin siapa yang ada di neraka.
Hal ini hendaknya menjadi cermin untuk memeriksa diri kita sendiri.
Apakah saya benar-benar berjalan bersama Tuhan?
Apakah saya jujur di hadapan-Nya?
Apakah saya berpura-pura menjadi sesuatu yang secara rohani sebenarnya bukan saya?
Apakah saya melayani Tuhan karena saya mengasihi Dia, atau karena saya ingin orang-orang mengagumi saya?
GEREJA MULA MENDAPATKAN PELAJARAN YANG MENGERIKAN
Kisah Para Rasul 5:11 mengatakan:
“Dan ketakutan yang sangat besar timbul atas seluruh jemaat, dan atas semua orang yang mendengar hal-hal ini.”
Ketakutannya bukan hanya ketakutan akan kematian.
Ini merupakan kesadaran bahwa Tuhan benar-benar hadir di antara umat-Nya.
Gereja bukanlah panggung untuk pertunjukan.
Pelayanan bukanlah kompetisi untuk mendapatkan perhatian.
Spiritualitas bukanlah kostum.
Dan Kekristenan bukanlah tentang menciptakan sebuah gambaran di hadapan manusia sambil menyembunyikan realitas lain dari Tuhan.
Ananias dan Safira mengingatkan kita akan sesuatu yang sangat perlu diingat oleh banyak orang percaya:
ANDA BISA MEmbodohi ORANG, TETAPI ANDA TIDAK BISA MENOLAK TUHAN.
Oleh karena itu, daripada membuang-buang tenaga untuk bertanya, “Apakah Ananias dan Safira kehilangan keselamatan?”
mungkin kita juga harus bertanya:
“APAKAH SAYA HIDUP JUJUR DIHADAPAN TUHAN YANG MELIHAT SEGALA SESUATU?”
Karena bahaya terbesar adalah tidak terekspos oleh manusia.
Bahaya terbesar adalah merasa nyaman dengan penipuan sambil berasumsi bahwa Tuhan tidak melihat.
Biarlah kekristenanmu tulus, ibadahmu tulus, pemberianmu jujur, dan hatimu berserah sepenuhnya kepada Tuhan.
Komentar
Posting Komentar