KETIKA SATU TERLUKA, SEMUA MERASAKAN
KETIKA SATU TERLUKA, SEMUA MERASAKAN
Teks: 1 Korintus 12:26–27
"Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya." (1 Korintus 12:26–27)
Pendahuluan
Salah satu ciri kehidupan modern adalah semakin kuatnya sikap individualisme. Banyak orang berpikir bahwa hidup adalah urusan pribadi. Selama dirinya baik-baik saja, ia merasa tidak perlu memedulikan apa yang sedang dialami orang lain. Bahkan di dalam gereja, tidak sedikit jemaat yang datang untuk beribadah, lalu pulang tanpa benar-benar mengenal atau memperhatikan pergumulan saudara-saudaranya.
Padahal Alkitab menggambarkan gereja dengan cara yang sangat berbeda. Gereja bukanlah sekadar organisasi keagamaan, bukan pula kumpulan orang yang memiliki hobi yang sama. Gereja adalah tubuh Kristus. Setiap orang percaya ditempatkan Allah sebagai anggota-anggota dalam satu tubuh yang saling terhubung. Karena itu, apa yang dialami satu anggota tidak pernah menjadi urusan satu orang saja.
Dalam 1 Korintus 12, Rasul Paulus sedang menegur jemaat Korintus yang mulai membanggakan karunia tertentu dan meremehkan anggota tubuh yang lain. Mereka lupa bahwa setiap anggota memiliki fungsi yang berbeda, tetapi semuanya sama-sama penting di hadapan Allah. Puncak pengajaran itu terdapat pada ayat 26–27, ketika Paulus menunjukkan bahwa kesatuan tubuh Kristus bukan hanya terlihat dalam pelayanan, tetapi juga dalam kepedulian. Ketika satu anggota menderita, seluruh tubuh ikut merasakannya.
Melalui bagian ini kita belajar bahwa kehidupan orang percaya tidak pernah dirancang untuk dijalani sendiri. Allah memanggil kita untuk hidup dalam persekutuan yang saling menopang, saling menguatkan, dan saling memikul beban.
Ada beberapa bagian yang bisa kita lihat bersama berkaitan dengan tema ini, oleh karena itu Mari kita melihatnya satu persatu.
I. Di Dalam Tubuh Kristus Tidak Ada Penderitaan Yang Bersifat Pribadi
Paulus membuka bagian ini dengan sebuah pernyataan yang sangat kuat:
"Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita."
Perhatian kita tertuju pada kata "turut menderita."
Paulus menggunakan gambaran tubuh manusia. Ketika satu bagian tubuh terluka, seluruh tubuh akan merasakan dampaknya. Jika kaki terluka, mata akan melihat luka itu, tangan akan segera menolong, dan seluruh tubuh akan menyesuaikan diri agar luka itu tidak semakin parah. Tidak ada bagian tubuh yang berkata, "Itu bukan urusanku."
Demikian pula kehidupan gereja. Ketika satu anggota mengalami penderitaan, seluruh tubuh Kristus dipanggil untuk ikut merasakan bebannya. Kepedulian bukanlah pilihan, melainkan konsekuensi dari kesatuan yang telah Allah ciptakan.
Hal ini bertentangan dengan cara berpikir dunia yang mendorong setiap orang untuk hanya memikirkan dirinya sendiri. Dunia berkata, "Selama aku tidak terganggu, itu bukan masalahku." Namun Injil mengajarkan bahwa kasih kepada Kristus akan terlihat melalui kasih kepada sesama anggota tubuh-Nya.
Turut menderita bukan berarti kita mampu menghilangkan semua masalah orang lain. Namun kita dipanggil untuk hadir, mendengar, mendoakan, menghibur, dan menopang mereka. Sering kali Tuhan memakai kehadiran umat-Nya sebagai alat penghiburan bagi orang yang sedang terluka.
Karena itu, ketika kita mengetahui ada saudara seiman yang sedang berduka, sakit, mengalami kesulitan ekonomi, atau bergumul dalam keluarganya, jangan cepat berkata, "Semoga Tuhan menolongmu," lalu pergi begitu saja. Tanyakan apa yang dapat kita lakukan. Sebab tubuh Kristus dipanggil bukan hanya untuk berbicara tentang kasih, tetapi juga menghadirkannya dalam tindakan nyata.
II. Sukacita Orang Lain Adalah Sukacita Bersama
Paulus melanjutkan:
"Jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita."
Perhatian kita kini diarahkan kepada ungkapan "turut bersukacita."
Menariknya, Paulus tidak hanya berbicara tentang penderitaan, tetapi juga tentang keberhasilan. Kesatuan tubuh Kristus bukan hanya terlihat ketika kita menangis bersama, tetapi juga ketika kita mampu bersukacita atas berkat yang diterima orang lain.
Di sinilah hati manusia sering diuji. Tidak sulit bersukacita atas keberhasilan sendiri, tetapi tidak selalu mudah bersukacita atas keberhasilan orang lain. Dosa sering melahirkan iri hati, persaingan, dan keinginan untuk menjadi lebih menonjol daripada sesama.
Namun tubuh Kristus tidak dibangun di atas persaingan, melainkan di atas kasih. Ketika seorang saudara dipakai Tuhan dalam pelayanan, memperoleh pekerjaan yang baik, mengalami pemulihan, atau menerima berkat, seluruh jemaat seharusnya bersyukur bersama. Sebab keberhasilan satu anggota membawa sukacita bagi seluruh tubuh.
Paulus sedang mengajarkan bahwa gereja bukanlah tempat mencari pengakuan, melainkan tempat merayakan karya Allah dalam kehidupan setiap anggota. Ketika kasih Kristus memenuhi hati kita, keberhasilan orang lain tidak lagi menjadi ancaman, tetapi menjadi alasan untuk memuliakan Tuhan.
Karena itu, mari belajar mengucap syukur atas apa yang Tuhan kerjakan dalam hidup saudara-saudara kita. Sebab hati yang dipenuhi kasih akan lebih mudah mengucapkan, "Puji Tuhan," daripada bertanya, "Mengapa bukan aku?"
III. Kesatuan Itu Berasal Dari Kristus, Bukan Dari Manusia
Paulus menutup pembahasannya dengan berkata:
"Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya."
Perhatian kita tertuju pada frasa "tubuh Kristus."
Kesatuan gereja bukan dibangun oleh kesamaan suku, budaya, status sosial, pendidikan, atau latar belakang. Kesatuan gereja lahir karena Kristus telah mempersatukan umat-Nya melalui karya penebusan-Nya.
Setiap orang percaya memiliki fungsi yang berbeda. Ada yang mengajar, ada yang melayani, ada yang memimpin, ada yang memberi, ada yang menguatkan. Tidak semua memiliki karunia yang sama, tetapi semuanya memiliki nilai yang sama di hadapan Allah.
Karena itulah tidak ada ruang untuk merasa lebih penting daripada orang lain ataupun merasa tidak berguna. Kepala dari tubuh ini adalah Kristus, dan Dialah yang menempatkan setiap anggota sesuai dengan hikmat-Nya.
Ketika kita memahami kebenaran ini, kita akan berhenti membangun kelompok-kelompok kecil yang saling bersaing. Kita akan melihat gereja sebagai satu keluarga rohani yang dipanggil untuk bertumbuh bersama.
Kesatuan gereja tidak berarti semua orang harus sama, tetapi semua orang diarahkan kepada tujuan yang sama, yaitu memuliakan Kristus. Semakin dekat setiap anggota kepada Kristus, semakin dekat pula mereka satu sama lain.
Karena itu, jangan hanya menjadi anggota gereja secara administratif. Jadilah anggota tubuh Kristus yang hidup, yang peduli, yang mengasihi, yang melayani, dan yang rela memikul beban saudara-saudaranya.
Penutup
Melalui 1 Korintus 12:26–27, Allah mengingatkan kita bahwa gereja bukanlah sekadar tempat berkumpul pada hari Minggu. Gereja adalah tubuh Kristus yang hidup, di mana setiap anggota dipanggil untuk saling mengasihi, saling menguatkan, dan saling memikul beban.
Ketika satu anggota menangis, seluruh tubuh dipanggil untuk hadir dalam kasih. Ketika satu anggota bersukacita, seluruh tubuh dipanggil untuk mengucap syukur bersama. Inilah kehidupan yang mencerminkan Injil, yaitu kehidupan yang tidak lagi berpusat pada diri sendiri, tetapi pada Kristus yang telah mempersatukan umat-Nya.
Kiranya kita menjadi jemaat yang tidak hanya kuat dalam doktrin, tetapi juga hangat dalam kasih. Jemaat yang tidak hanya setia mendengar firman, tetapi juga setia menghidupi firman melalui kepedulian yang nyata. Sebab dunia akan mengenal bahwa kita adalah murid-murid Kristus bukan hanya melalui apa yang kita katakan, tetapi melalui kasih yang kita tunjukkan satu kepada yang lain.
Soli Deo Gloria
Komentar
Posting Komentar