IMAN YANG MELAMPAUI BATAS

 IMAN YANG MELAMPAUI BATAS


Teks: Matius 8:5–13


"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel." (Matius 8:10)


Pendahuluan


Di dalam kehidupan, manusia sering kali menilai seseorang berdasarkan latar belakangnya. Status sosial, jabatan, suku, pendidikan, bahkan profesi sering menjadi ukuran untuk menentukan siapa yang dianggap dekat atau jauh dari Allah. Pada zaman Yesus, seorang perwira Romawi adalah sosok yang tidak mungkin diharapkan menjadi teladan iman. Ia adalah bagian dari pemerintahan penjajah, seorang non-Yahudi, dan berasal dari bangsa yang dipandang "di luar" umat perjanjian.


Namun justru melalui seorang perwira inilah Yesus memberikan salah satu pujian terbesar yang pernah diucapkan-Nya mengenai iman. Perwira itu datang bukan dengan mengandalkan kekuasaan atau kedudukannya, melainkan dengan kerendahan hati dan keyakinan penuh kepada otoritas Kristus. Ia percaya bahwa satu perkataan Yesus saja cukup untuk menyembuhkan hambanya yang sedang terbaring sakit.


Perikop ini mengajarkan bahwa iman sejati tidak diukur dari identitas keagamaan, lamanya seseorang berada di gereja, atau banyaknya pengetahuan Alkitab yang dimiliki. Iman sejati terlihat dari bagaimana seseorang memandang Kristus dan sepenuhnya bersandar kepada kuasa serta otoritas-Nya.


Ada beberapa bagian yang bisa kita lihat bersama berkaitan dengan tema ini, oleh karena itu Mari kita melihatnya satu persatu. 


I. Iman Sejati Selalu Datang Dengan Kerendahan Hati


Perikop ini dimulai dengan kalimat:


"Datanglah seorang perwira mendapatkan Yesus dan memohon kepada-Nya."


Perhatian kita diarahkan kepada kata "memohon."


Seorang perwira Romawi adalah pemimpin yang memiliki kewibawaan. Ia memimpin sekitar seratus prajurit dan terbiasa memberi perintah, bukan meminta pertolongan. Namun ketika hambanya sakit keras, seluruh kekuasaan yang dimilikinya tidak mampu menyelesaikan persoalan itu.


Di sinilah kita melihat langkah pertama dari iman yang sejati. Perwira itu menyadari keterbatasannya. Ia tidak datang kepada Yesus dengan kesombongan, melainkan dengan kerendahan hati. Bahkan ketika Yesus hendak datang ke rumahnya, ia berkata,


"Tuhan, aku tidak layak menerima-Mu di dalam rumahku."


Kalimat ini menunjukkan bahwa ia memahami siapa dirinya dan siapa Yesus. Ia tidak merasa memiliki hak untuk menuntut pertolongan. Ia datang sebagai seorang yang bergantung sepenuhnya kepada belas kasihan Kristus.


Inilah sikap hati yang selalu menyertai iman yang benar. Selama manusia masih merasa cukup kuat, cukup mampu, dan cukup benar, ia tidak akan sungguh-sungguh datang kepada Tuhan. Namun ketika ia menyadari ketidaklayakannya, di situlah pintu anugerah Allah terbuka.


Sering kali kesombongan menjadi penghalang terbesar dalam kehidupan rohani. Kita merasa mampu mengatur hidup sendiri. Kita baru mencari Tuhan ketika semua usaha kita gagal. Padahal Injil mengajarkan bahwa sejak awal kita adalah orang-orang yang sepenuhnya bergantung kepada kasih karunia Allah.


Karena itu, iman bukan dimulai dari keyakinan terhadap diri sendiri, tetapi dari kerendahan hati yang mengakui bahwa hanya Kristus yang sanggup menolong.


II. Iman Sejati Percaya Pada Otoritas Firman Kristus


Perwira itu kemudian berkata:


"Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh."


Perhatian kita kini tertuju pada ungkapan "sepatah kata."


Kalimat ini memperlihatkan betapa tingginya pandangan perwira itu terhadap Yesus. Ia percaya bahwa Kristus tidak perlu hadir secara fisik untuk melakukan mujizat. Satu perkataan-Nya saja cukup untuk mengubah keadaan.


Mengapa ia memiliki keyakinan seperti itu? Perwira itu menjelaskan melalui pengalamannya sendiri sebagai seorang pemimpin militer. Ia memahami konsep otoritas. Ketika ia memberi perintah kepada prajuritnya, mereka segera melaksanakannya. Karena itu ia percaya bahwa seluruh penyakit pun berada di bawah otoritas Yesus.


Di sinilah letak iman yang sejati. Perwira itu bukan hanya percaya bahwa Yesus mampu melakukan mujizat, tetapi ia percaya bahwa seluruh ciptaan tunduk kepada perkataan Kristus.


Prinsip ini tetap berlaku bagi kehidupan orang percaya saat ini. Firman Kristus tetap memiliki otoritas yang mutlak. Dunia boleh berubah. Teknologi boleh berkembang. Nilai-nilai masyarakat boleh bergeser. Namun firman Tuhan tetap menjadi kebenaran yang tidak berubah.


Sering kali kita lebih percaya kepada keadaan daripada kepada janji Allah. Ketika masalah datang, kita melihat besarnya persoalan, tetapi melupakan besarnya kuasa Kristus. Padahal iman tidak bertumpu pada apa yang dapat kita lihat, melainkan pada Pribadi yang telah berjanji.


Karena itu, orang percaya dipanggil untuk belajar mempercayai firman Tuhan bahkan ketika keadaan belum berubah. Sebab kuasa Kristus tidak pernah dibatasi oleh jarak, waktu, ataupun keadaan.


III. Iman Sejati Membawa Seseorang Kepada Anugerah Allah


Setelah mendengar perkataan perwira itu, Yesus berkata:


"Sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel."


Perhatian kita diarahkan kepada kata "iman."


Pujian Yesus bukan diberikan kepada seorang ahli Taurat, imam, atau pemimpin agama Yahudi, melainkan kepada seorang perwira bangsa lain. Hal ini menunjukkan bahwa yang diperkenan Allah bukanlah identitas lahiriah, melainkan iman yang bersandar kepada Kristus.


Kemudian Yesus berbicara mengenai banyak orang yang akan datang dari timur dan barat untuk duduk makan bersama Abraham, Ishak, dan Yakub di dalam Kerajaan Surga. Pernyataan ini menunjukkan bahwa keselamatan adalah karya anugerah Allah yang terbuka bagi semua orang yang percaya kepada Kristus.


Perikop ini mengingatkan kita bahwa tidak seorang pun diselamatkan karena asal-usul, tradisi keluarga, atau kedudukan agamanya. Keselamatan hanya diterima melalui iman kepada Kristus.


Iman itu sendiri bukanlah hasil kekuatan manusia, melainkan respons yang Allah kerjakan melalui anugerah-Nya. Karena itu tidak ada seorang pun yang dapat memegahkan dirinya di hadapan Tuhan.


Perwira Romawi datang sebagai orang asing, tetapi pulang sebagai orang yang dipuji imannya oleh Yesus. Ia datang tanpa hak apa pun, tetapi menerima belas kasihan karena ia percaya kepada Kristus.


Demikian pula setiap orang percaya pada hari ini. Kita datang bukan membawa jasa, melainkan membawa kebutuhan. Kita datang bukan karena layak, tetapi karena Kristus penuh kasih karunia. Dan setiap orang yang datang kepada-Nya dengan iman tidak akan dipermalukan.


Penutup


Perikop tentang perwira di Kapernaum memperlihatkan kepada kita seperti apa iman yang sejati. Iman yang benar selalu lahir dari kerendahan hati, bertumpu pada otoritas firman Kristus, dan sepenuhnya bergantung pada anugerah Allah.


Perwira itu tidak memiliki semua keistimewaan yang dimiliki bangsa Israel, tetapi ia memiliki sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu. Itulah sebabnya Yesus menjadikannya teladan iman.


Hari ini pertanyaannya bukanlah seberapa lama kita menjadi orang Kristen atau seberapa banyak pengetahuan kita tentang Alkitab. Pertanyaannya adalah, apakah kita sungguh-sungguh mempercayai Kristus seperti perwira itu? Apakah kita datang kepada-Nya dengan hati yang rendah? Apakah kita mempercayai firman-Nya lebih daripada keadaan kita? Apakah kita bersandar kepada anugerah-Nya dan bukan kepada kemampuan kita sendiri?


Kiranya melalui firman ini, iman kita semakin diarahkan kepada Kristus. Sebab hanya Dia yang memiliki otoritas atas hidup, atas penderitaan, atas masa depan, dan atas keselamatan kita. Di dalam Dia, tidak ada seorang pun yang berharap dengan sia-sia.


Soli Deo Gloria

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA BANYAK ORANG KRISTEN BERJUANG UNTUK MENDENGAR ROH KUDUS

DANGERNYA MEMILIH DENGAN PANDANGAN

PEMBAWA DAMAI: IDENTITAS ORANG YANG DISEBUT ANAK-ANAK ALLAH