MENGIKUT KRISTUS ATAU MENGIKUT DUNIA?

 MENGIKUT KRISTUS ATAU MENGIKUT DUNIA?


Ketika Netralitas Bukan Lagi Pilihan


Teks: Lukas 9:23–25 (TB)


“Kata-Nya kepada mereka semua: ‘Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?’”


PENDAHULUAN


Salah satu ciri zaman modern adalah keinginan untuk hidup tanpa komitmen yang mutlak. Dunia mengajarkan bahwa seseorang dapat mengambil jalan tengah dalam hampir segala hal. Manusia diajar untuk tetap memiliki hubungan dengan Tuhan tanpa harus terlalu serius mengikut Tuhan. Seseorang dapat mengaku percaya kepada Kristus, tetapi pada saat yang sama tetap mempertahankan nilai-nilai dunia sebagai pedoman hidupnya.


Akibatnya lahirlah kekristenan yang nyaman, tetapi tidak memiliki harga. Kekristenan yang penuh simbol, tetapi miskin pengorbanan. Kekristenan yang berbicara tentang berkat, tetapi menghindari salib. Banyak orang ingin menerima Kristus sebagai Juruselamat, tetapi tidak mau tunduk kepada-Nya sebagai Tuhan.


Namun ketika kita membaca Injil, kita menemukan bahwa Yesus tidak pernah menawarkan jalan tengah. Ia tidak pernah memanggil orang untuk sekadar mengagumi-Nya. Ia memanggil orang untuk mengikut-Nya. Dan mengikuti Kristus selalu menuntut sebuah keputusan yang jelas.


Dalam bagian ini Yesus sedang berbicara kepada banyak orang yang tertarik kepada-Nya. Mereka melihat mukjizat-Nya. Mereka mendengar pengajaran-Nya. Namun Yesus mengetahui bahwa ketertarikan tidak selalu sama dengan pemuridan. Karena itu Ia menjelaskan apa arti menjadi pengikut-Nya yang sejati.


Melalui teks ini kita akan melihat tiga kebenaran penting. Pertama, mengikut Kristus menuntut penyangkalan diri. Kedua, mengikut Kristus menuntut kesediaan memikul salib. Ketiga, mengikut Kristus berarti memilih nilai kekekalan di atas seluruh tawaran dunia.


I. MENGIKUT KRISTUS MENUNTUT PENYANGKALAN DIRI


Yesus memulai dengan sebuah pernyataan yang sangat tegas:


“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya.”


Perhatikan bahwa Yesus tidak berkata bahwa penyangkalan diri adalah pilihan tambahan bagi orang percaya yang ingin lebih rohani. Sebaliknya, penyangkalan diri adalah syarat dasar bagi setiap orang yang mau mengikut-Nya.


Dunia mengajarkan bahwa tujuan hidup adalah menemukan diri sendiri, memuaskan diri sendiri, dan mengutamakan diri sendiri. Segala sesuatu berpusat pada keinginan pribadi. Pertanyaan terbesar manusia modern adalah “Apa yang aku inginkan?” atau “Apa yang membuatku bahagia?”


Namun Kristus mengajukan pertanyaan yang berbeda: “Siapa yang menjadi tuan atas hidupmu?”


Penyangkalan diri bukan berarti membenci diri sendiri atau mengabaikan keberadaan diri. Penyangkalan diri berarti melepaskan hak untuk menjadi penguasa atas hidup sendiri. Ini adalah pengakuan bahwa Kristus memiliki otoritas penuh atas pikiran, kehendak, ambisi, masa depan, dan seluruh keberadaan kita.


Di sinilah pertentangan antara Kristus dan dunia menjadi sangat jelas. Dunia berkata, “Ikuti hatimu.” Kristus berkata, “Ikuti Aku.” Dunia berkata, “Jadilah pusat hidupmu.” Kristus berkata, “Aku harus menjadi pusat hidupmu.”


Masalahnya, natur manusia berdosa selalu ingin mempertahankan takhtanya sendiri. Sejak kejatuhan manusia pertama, dosa pada dasarnya adalah usaha manusia untuk hidup tanpa tunduk kepada Allah. Karena itu mengikut Kristus bukan sekadar perubahan perilaku. Mengikut Kristus adalah penyerahan kedaulatan hidup kepada Raja yang sejati.


Kebenaran ini membawa kita kepada konsekuensi berikutnya. Jika Kristus adalah Raja, maka mengikuti-Nya tidak akan pernah bebas dari pengorbanan.


II. MENGIKUT KRISTUS MENUNTUT KESEDIAAN MEMIKUL SALIB


Yesus melanjutkan:


“Ia harus memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”


Bagi pendengar pada zaman itu, salib bukan simbol keagamaan yang indah. Salib adalah alat eksekusi yang mengerikan. Ketika seseorang memikul salib, itu berarti ia sedang berjalan menuju kematian.


Karena itu ketika Yesus berbicara tentang memikul salib, Ia sedang menjelaskan bahwa menjadi murid-Nya selalu melibatkan pengorbanan.


Dunia menjual kenyamanan. Kristus menawarkan ketaatan.


Dunia menjanjikan penerimaan. Kristus memanggil kepada kesetiaan.


Dunia mengukur keberhasilan melalui popularitas, kekuasaan, dan pencapaian. Kristus mengukur keberhasilan melalui ketaatan kepada kehendak Allah.


Memikul salib berarti tetap setia ketika kesetiaan itu mahal. Tetap taat ketika ketaatan mendatangkan penolakan. Tetap hidup benar ketika dunia menganggap kebenaran sebagai sesuatu yang kuno dan tidak relevan.


Yesus tidak sedang berbicara tentang penderitaan secara umum. Banyak orang menderita tanpa menjadi pengikut Kristus. Salib yang dimaksud Yesus adalah harga yang harus dibayar karena kesetiaan kepada-Nya.


Di berbagai tempat di dunia, harga itu mungkin berupa penganiayaan. Di tempat lain, harga itu mungkin berupa kehilangan kesempatan, kehilangan popularitas, atau penolakan dari lingkungan sekitar. Namun prinsipnya tetap sama, tidak ada murid yang dapat mengikut Kristus sambil mempertahankan kenyamanan dunia sebagai tujuan utamanya.


Pada titik inilah Yesus membawa pendengar-Nya kepada sebuah pertanyaan yang lebih mendalam. Mengapa seseorang harus rela membayar harga yang demikian besar untuk mengikut Kristus?


Jawabannya ditemukan dalam perspektif kekekalan.


III. DUNIA MENAWARKAN SEGALANYA, TETAPI TIDAK DAPAT MENYELAMATKAN JIWA


Yesus berkata:


“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?”


Ini adalah salah satu pertanyaan paling tajam dalam seluruh Injil.


Yesus mengajak kita membayangkan skenario yang tampaknya mustahil, seseorang memperoleh seluruh dunia. Semua yang diinginkan manusia ada di tangannya. Kekayaan, kekuasaan, pengaruh, popularitas, kehormatan, dan kesuksesan.


Namun kemudian Yesus bertanya: apa gunanya semua itu jika pada akhirnya jiwanya binasa?


Pertanyaan ini menyingkapkan kebohongan terbesar dunia. Dunia terus berusaha meyakinkan manusia bahwa kepuasan tertinggi dapat ditemukan dalam hal-hal sementara. Namun seluruh dunia ini pada akhirnya akan berlalu. Kekayaan akan ditinggalkan. Jabatan akan berakhir. Popularitas akan memudar. Bahkan tubuh yang paling kuat sekalipun akan menjadi lemah.


Yang kekal bukanlah dunia ini.


Yang kekal adalah jiwa manusia.


Karena itu pilihan terbesar dalam hidup bukanlah antara kaya atau miskin, sukses atau gagal, terkenal atau tidak dikenal. Pilihan terbesar adalah antara mengikut Kristus atau mengikut dunia.


Tidak ada wilayah netral.


Tidak ada kerajaan ketiga.


Tidak ada jalan tengah yang memungkinkan seseorang menikmati Kristus sekaligus menjadikan dunia sebagai tuannya.


Pada akhirnya setiap orang akan menunjukkan siapa yang sebenarnya ia ikuti melalui arah hidupnya, nilai hidupnya, prioritas hidupnya, dan tujuan hidupnya.


Mengikut dunia mungkin tampak lebih mudah hari ini, tetapi berakhir dalam kebinasaan. Mengikut Kristus mungkin menuntut pengorbanan hari ini, tetapi berakhir dalam kehidupan yang kekal.


PENUTUP


Melalui Lukas 9:23–25, Yesus menempatkan setiap orang di hadapan sebuah keputusan yang tidak dapat dihindari.


Mengikut Kristus berarti menyangkal diri.


Mengikut Kristus berarti memikul salib.


Mengikut Kristus berarti menilai seluruh dunia dari perspektif kekekalan.


Karena itu pertanyaan terbesar bukanlah apakah seseorang hadir di gereja, mengenal ajaran Kristen, atau menyebut dirinya orang percaya. Pertanyaan terbesar adalah siapakah yang sebenarnya sedang diikuti?


Apakah hidup ini diarahkan oleh Kristus atau oleh dunia?


Apakah keputusan-keputusan hidup dibentuk oleh firman Tuhan atau oleh nilai-nilai dunia?


Apakah tujuan utama hidup adalah kemuliaan Kristus atau keberhasilan diri sendiri?


Yesus tidak menawarkan jalan tengah. Ia tidak memanggil manusia untuk menjadi pengagum-Nya, melainkan murid-Nya.


Dan setiap murid sejati pada akhirnya harus mengambil keputusan yang sama:


Aku tidak dapat mengikut Kristus dan dunia sekaligus. Aku harus memilih siapa yang menjadi Tuhanku.


Sebab pada akhirnya, hanya ada dua jalan. Jalan yang lebar menuju kebinasaan, dan jalan yang sempit menuju kehidupan.


Dan Kristus masih berkata hari ini:


“Ikutlah Aku.”


Soli Deo Gloria

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BERLARI SAMPAI GARIS AKHIR