BERLARI SAMPAI GARIS AKHIR

 BERLARI SAMPAI GARIS AKHIR


Teks: Ibrani 12:1–3


"Marilah kita berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita." (Ibrani 12:1)


Pendahuluan


Kehidupan Kristen bukanlah perjalanan yang singkat dan mudah. Alkitab tidak pernah menggambarkan kehidupan orang percaya sebagai jalan yang bebas dari kesulitan, pencobaan, atau penderitaan. Sebaliknya, kehidupan iman digambarkan sebagai sebuah perlombaan yang panjang, melelahkan, dan membutuhkan ketekunan sampai garis akhir.


Surat Ibrani ditulis kepada orang-orang percaya yang sedang mengalami tekanan dan penganiayaan. Mereka mulai lelah, sebagian kehilangan semangat, dan ada yang tergoda untuk meninggalkan iman mereka. Dalam konteks itulah penulis Ibrani mengajak mereka untuk melihat kembali teladan para pahlawan iman dalam pasal 11. Setelah memaparkan kehidupan Abraham, Musa, Nuh, dan banyak tokoh lainnya, penulis kemudian membawa pembaca kepada sebuah kesimpulan praktis dalam pasal 12.


Kata kunci yang mendominasi bagian ini adalah perlombaan. Penulis memakai gambaran seorang atlet yang sedang berlari menuju garis akhir. Namun perlombaan yang dimaksud bukanlah perlombaan fisik, melainkan perjalanan iman yang harus dijalani setiap orang percaya sampai akhirnya bertemu dengan Tuhan.


Melalui Ibrani 12:1–3, kita menemukan tiga prinsip penting yang memampukan orang percaya untuk tetap setia dalam perlombaan iman.


I. Menanggalkan Segala Beban yang Menghambat


Ayat 1 dimulai dengan kalimat:


"Karena kita mempunyai banyak saksi bagaikan awan yang mengelilingi kita..."


Yang dimaksud bukanlah para pahlawan iman sedang mengawasi kita dari surga, melainkan kesaksian hidup mereka yang menjadi bukti bahwa Allah setia memelihara umat-Nya sampai akhir. Kehidupan mereka menjadi dorongan bagi orang percaya untuk terus berlari dalam iman.


Setelah itu penulis memberikan perintah penting:


"Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita."


Kata "menanggalkan" menggambarkan tindakan seorang pelari yang melepaskan segala sesuatu yang dapat menghambat kecepatannya. Pada zaman kuno, para atlet berusaha mengurangi segala beban agar dapat berlari secara maksimal.


Menariknya, penulis membedakan antara beban dan dosa. Dosa jelas harus ditinggalkan karena menghalangi pertumbuhan rohani. Namun beban tidak selalu berupa dosa. Beban bisa berupa hal-hal yang pada dasarnya tidak salah, tetapi menghambat fokus kita kepada Tuhan. Ambisi yang berlebihan, kecintaan terhadap kenyamanan, ketakutan akan masa depan, kepahitan, atau bahkan kesibukan yang tidak terkendali dapat menjadi beban yang memperlambat langkah iman kita.


Masalah terbesar banyak orang percaya bukan karena mereka berhenti berlari, melainkan karena mereka berlari sambil membawa terlalu banyak beban. Akibatnya mereka cepat lelah dan kehilangan sukacita rohani.


Setiap orang percaya perlu bertanya dengan jujur, apa yang sedang menghambat perjalanan iman saya? Apakah ada dosa yang masih dipelihara? Apakah ada hal-hal yang terus menyita hati sehingga Kristus tidak lagi menjadi pusat hidup? Tuhan memanggil kita untuk melepaskan segala sesuatu yang menghalangi hubungan kita dengan-Nya.


II. Memusatkan Pandangan Kepada Kristus


Ayat 2 menjadi pusat dari seluruh bagian ini:


"Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus."


Kata kunci dalam ayat ini adalah "tertuju." Secara harfiah berarti mengalihkan pandangan dari segala sesuatu yang lain dan memfokuskan mata kepada satu objek.


Inilah rahasia ketekunan dalam kehidupan Kristen. Kita tidak dipanggil untuk memandang diri sendiri, keadaan sekitar, atau kekuatan pribadi kita. Kita dipanggil untuk memandang Kristus.


Penulis menyebut Yesus sebagai "yang memimpin kita dalam iman dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan." Artinya, Kristus bukan hanya tujuan iman kita, tetapi juga sumber iman kita. Keselamatan dimulai oleh anugerah-Nya dan akan disempurnakan oleh kuasa-Nya.


Kemudian penulis mengingatkan bahwa Yesus sendiri telah menempuh jalan penderitaan. Demi sukacita yang disediakan bagi-Nya, Ia rela memikul salib dan menanggung kehinaan. Ia tidak mundur ketika menghadapi penderitaan karena Ia melihat kemuliaan yang akan datang.


Sering kali kita kehilangan semangat karena terlalu fokus pada masalah yang ada di depan mata. Ketika penderitaan menjadi pusat perhatian, hati menjadi lemah. Namun ketika Kristus menjadi pusat perhatian, kita menemukan kekuatan yang baru.


Dalam menghadapi pergumulan hidup, jangan jadikan masalah sebagai fokus utama. Jangan pula menjadikan keberhasilan sebagai sumber kekuatan. Pandanglah Kristus. Semakin kita mengenal-Nya melalui firman, doa, dan persekutuan dengan-Nya, semakin kita memperoleh kemampuan untuk bertahan dalam segala keadaan.


III. Bertahan Dalam Penderitaan Dengan Pengharapan


Ayat 3 berkata:


"Ingatlah selalu akan Dia yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa."


Kata kunci dalam bagian ini adalah "ingatlah." Penulis sedang mengajak pembacanya untuk terus merenungkan karya dan penderitaan Kristus.


Yesus mengalami penolakan, penghinaan, pengkhianatan, penderitaan, dan kematian yang paling mengerikan. Namun Ia tetap taat kepada kehendak Bapa sampai akhir. Karena itu, ketika orang percaya menghadapi penderitaan, mereka dapat melihat kepada Kristus dan menemukan teladan yang sempurna.


Penderitaan sering kali membuat seseorang berpikir bahwa Tuhan telah meninggalkannya. Namun salib menunjukkan hal yang berbeda. Allah justru bekerja secara paling besar melalui penderitaan Kristus untuk menghasilkan keselamatan bagi umat-Nya.


Karena itu, orang percaya dapat menghadapi penderitaan dengan perspektif yang berbeda. Penderitaan bukan tanda bahwa Allah kehilangan kendali. Sebaliknya, Allah sering memakai penderitaan untuk membentuk iman, memurnikan karakter, dan membawa umat-Nya semakin serupa dengan Kristus.


Ketika menghadapi kesulitan, jangan menilai kasih Allah berdasarkan keadaan yang sedang dialami. Nilailah keadaan berdasarkan kasih Allah yang telah dinyatakan di salib. Jika Allah tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri bagi keselamatan kita, maka kita dapat percaya bahwa Dia tetap memegang kendali atas setiap bagian kehidupan kita.


Penutup


Ibrani 12:1–3 mengingatkan bahwa kehidupan Kristen adalah perlombaan yang harus dijalani dengan ketekunan. Untuk mencapai garis akhir, kita harus menanggalkan segala beban yang menghambat, memusatkan pandangan kepada Kristus, dan bertahan dalam penderitaan dengan pengharapan yang berasal dari-Nya.


Dunia mengajarkan bahwa yang penting adalah memulai dengan kuat. Namun firman Tuhan mengajarkan bahwa yang penting adalah mengakhiri dengan setia. Banyak orang memulai perjalanan iman dengan penuh semangat, tetapi hanya mereka yang terus bertekun dalam anugerah Tuhan yang akan mencapai garis akhir.


Karena itu, jangan menyerah ketika perjalanan terasa berat. Jangan berhenti ketika tantangan datang. Jangan kehilangan pengharapan ketika penderitaan menghampiri.


Pandanglah Kristus.


Dia telah berjalan lebih dahulu. Dia telah menang atas dosa, maut, dan penderitaan. Dan Dia yang memulai pekerjaan baik dalam hidup umat-Nya akan setia memeliharanya sampai akhirnya berdiri dalam kemuliaan kekal.


Maka marilah kita terus berlari, bukan dengan kekuatan sendiri, tetapi dengan mata yang tertuju kepada Kristus, sampai garis akhir yang telah Tuhan tetapkan bagi kita.


Soli Deo Gloria

Komentar