HIDUP YANG SEJATI HANYA DI DALAM KRISTUS
HIDUP YANG SEJATI HANYA DI DALAM KRISTUS
Teks: Yohanes 10:10 (TB)
"Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan."
PENDAHULUAN
Salah satu pencarian terbesar manusia sepanjang sejarah adalah pencarian akan hidup yang lebih baik. Setiap orang ingin hidup bahagia, hidup bermakna, hidup aman, dan hidup penuh kepuasan. Karena itu manusia terus mengejar berbagai hal yang diyakininya dapat memberikan kehidupan yang diinginkan. Ada yang mengejar kekayaan, ada yang mengejar kekuasaan, ada yang mengejar pendidikan, popularitas, relasi, atau berbagai bentuk kesenangan duniawi.
Namun semakin manusia berusaha menemukan kepenuhan hidup di luar Allah, semakin terlihat bahwa tidak ada satu pun hal di dunia ini yang mampu memuaskan hati manusia sepenuhnya. Banyak orang memiliki segala sesuatu yang diinginkan dunia, tetapi tetap hidup dalam kekosongan. Mereka memiliki kenyamanan tetapi kehilangan damai sejahtera. Mereka memiliki keberhasilan tetapi kehilangan tujuan hidup. Mereka memiliki banyak hal untuk dinikmati, tetapi tidak memiliki hidup yang sejati.
Di tengah kondisi inilah Yesus mengucapkan perkataan yang sangat penting dalam Yohanes 10:10. Ayat ini berada dalam konteks pengajaran Yesus sebagai Gembala yang Baik. Ia sedang membandingkan diri-Nya dengan para gembala palsu yang menyesatkan umat Allah. Dalam perbandingan tersebut, Yesus menunjukkan dua realitas yang sangat berbeda yaitu pekerjaan pencuri yang membawa kehancuran dan pekerjaan Kristus yang membawa kehidupan.
Melalui ayat ini kita akan melihat tiga kebenaran penting. Pertama, dunia dan dosa selalu berujung pada kehancuran. Kedua, Kristus adalah satu-satunya sumber kehidupan sejati. Ketiga, hidup berkelimpahan yang dijanjikan Kristus memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada berkat jasmani.
I. DUNIA DAN DOSA SELALU BERUJUNG PADA KEHANCURAN
Yesus memulai dengan sebuah peringatan:
"Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan."
Dalam konteks langsung, Yesus sedang berbicara tentang para pemimpin palsu yang menyesatkan umat Allah. Namun di balik semua itu terdapat pekerjaan Iblis yang sejak awal berusaha menghancurkan manusia.
Perhatikan bahwa Yesus menggambarkan tujuan pencuri dengan sangat jelas. Ia tidak datang untuk memberi kehidupan. Ia datang untuk mengambil. Ia tidak datang untuk membangun. Ia datang untuk merusak. Ia tidak datang untuk menyelamatkan. Ia datang untuk membinasakan.
Inilah karakter dosa sejak awal sejarah manusia.
Ketika ular menggoda Hawa di taman Eden, dosa tampak menarik dan menjanjikan kebahagiaan. Namun hasil akhirnya adalah kematian. Sejak saat itu pola yang sama terus berulang. Dosa selalu menawarkan kenikmatan sesaat, tetapi menyembunyikan kehancuran di baliknya.
Dunia modern sering kali mengemas dosa dengan sangat menarik. Keserakahan disebut ambisi. Kesombongan disebut kepercayaan diri. Pemberontakan terhadap Allah disebut kebebasan. Manusia diyakinkan bahwa hidup akan lebih baik jika ia menjadi tuan atas dirinya sendiri.
Namun firman Tuhan mengajarkan bahwa jalan yang menjauh dari Allah selalu berakhir dalam kehancuran. Kehancuran itu mungkin tidak langsung terlihat. Kadang-kadang manusia menikmati hasil dosanya untuk sementara waktu. Namun pada akhirnya dosa selalu mencuri sukacita, membunuh damai sejahtera, dan membinasakan kehidupan rohani.
Inilah tragedi terbesar manusia. Banyak orang berpikir mereka sedang mengejar kehidupan, padahal mereka sedang berjalan menuju kebinasaan.
Karena itu, sebelum seseorang dapat menghargai karya Kristus, ia harus terlebih dahulu menyadari bahaya dosa. Selama manusia masih percaya bahwa dunia dapat memberikan kehidupan sejati, ia tidak akan melihat kebutuhannya akan Kristus.
Namun setelah Yesus menjelaskan pekerjaan pencuri, Ia segera mengarahkan perhatian kepada diri-Nya sendiri.
II. KRISTUS ADALAH SATU-SATUNYA SUMBER KEHIDUPAN SEJATI
Setelah menggambarkan kehancuran yang dibawa oleh pencuri, Yesus berkata:
"Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup."
Kalimat ini mengungkapkan inti dari misi kedatangan Kristus ke dunia.
Yesus tidak datang hanya untuk menjadi guru moral. Ia tidak datang hanya untuk memberikan teladan hidup yang baik. Ia tidak datang sekadar memperbaiki kualitas hidup manusia. Ia datang untuk memberikan hidup.
Mengapa manusia membutuhkan hidup?
Karena menurut Alkitab, masalah manusia bukan sekadar kurang pendidikan, kurang kesempatan, atau kurang moralitas. Masalah manusia adalah kematian rohani akibat dosa. Manusia mungkin masih hidup secara fisik, tetapi terpisah dari Allah yang adalah sumber kehidupan.
Inilah sebabnya manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Orang mati tidak dapat membangkitkan dirinya sendiri. Diperlukan tindakan Allah yang berdaulat untuk memberikan kehidupan yang baru.
Dan itulah yang dilakukan Kristus.
Melalui kematian-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Kristus membuka jalan bagi manusia untuk diperdamaikan dengan Allah. Ia menanggung hukuman dosa yang seharusnya ditanggung oleh umat-Nya. Ia memberikan kehidupan baru kepada mereka yang percaya kepada-Nya.
Karena itu hidup yang sejati tidak ditemukan dalam agama, filsafat, kekayaan, atau pencapaian manusia. Hidup yang sejati hanya ditemukan di dalam Kristus.
Pernyataan Yesus ini juga bersifat eksklusif. Ia tidak berkata bahwa Ia menunjukkan jalan menuju hidup. Ia berkata bahwa Ia datang untuk memberikan hidup itu sendiri. Dengan kata lain, kehidupan sejati tidak dapat dipisahkan dari hubungan dengan Kristus.
Semakin seseorang dekat dengan Kristus, semakin ia mengalami kehidupan yang sesungguhnya. Sebaliknya, semakin seseorang menjauh dari Kristus, semakin ia kehilangan tujuan keberadaannya.
Namun Yesus tidak berhenti pada pernyataan bahwa Ia memberikan hidup. Ia menambahkan sesuatu yang sangat penting mengenai kualitas kehidupan tersebut.
III. HIDUP BERKELIMPAHAN ADALAH KEHIDUPAN YANG DIPENUHI KRISTUS
Yesus berkata:
"Dan mempunyainya dalam segala kelimpahan."
Ayat ini sering disalahpahami. Banyak orang menganggap bahwa hidup berkelimpahan berarti kekayaan yang melimpah, kesehatan yang sempurna, atau keberhasilan tanpa batas. Akibatnya, mereka mengukur berkat Allah berdasarkan keadaan lahiriah.
Namun ketika kita membaca seluruh Injil, jelas bahwa yang dimaksud Yesus jauh lebih dalam daripada itu.
Para rasul yang menerima hidup berkelimpahan justru banyak mengalami penderitaan. Mereka menghadapi penganiayaan, penolakan, kemiskinan, bahkan kematian karena iman mereka. Namun Alkitab tetap menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang memiliki sukacita yang penuh.
Mengapa?
Karena hidup berkelimpahan bukan pertama-tama berbicara tentang banyaknya hal yang dimiliki seseorang, melainkan tentang kepenuhan hubungan dengan Allah.
Hidup berkelimpahan adalah hidup yang diperdamaikan dengan Sang Pencipta.
Hidup berkelimpahan adalah hidup yang memiliki pengampunan dosa.
Hidup berkelimpahan adalah hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus.
Hidup berkelimpahan adalah hidup yang memiliki damai sejahtera di tengah badai.
Hidup berkelimpahan adalah hidup yang memiliki pengharapan kekal yang tidak dapat dirampas oleh dunia.
Dunia dapat memberikan hiburan sementara, tetapi tidak dapat memberikan sukacita sejati.
Dunia dapat memberikan kenyamanan sesaat, tetapi tidak dapat memberikan damai sejahtera yang kekal.
Dunia dapat memberikan kesenangan, tetapi tidak dapat memberikan hidup.
Hanya Kristus yang dapat melakukan itu.
Karena itu, ukuran kehidupan yang berkelimpahan bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa dalam kita mengenal Kristus dan hidup dalam persekutuan dengan-Nya.
Semakin seseorang hidup di dalam Kristus, semakin ia mengalami kekayaan rohani yang tidak dapat dibeli oleh apa pun di dunia ini.
PENUTUP
Yohanes 10:10 menempatkan dua jalan yang sangat berbeda di hadapan setiap manusia.
Di satu sisi ada jalan dosa yang tampak menarik tetapi berakhir dalam kehancuran. Pencuri datang untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan.
Di sisi lain ada Kristus, Sang Gembala yang Baik, yang datang untuk memberikan hidup.
Hidup yang ditawarkan Kristus bukan sekadar perbaikan hidup, melainkan kehidupan yang baru. Bukan sekadar kenyamanan sementara, melainkan kelimpahan yang kekal. Bukan sekadar berkat lahiriah, melainkan persekutuan dengan Allah yang menjadi sumber segala kehidupan.
Karena itu pertanyaan yang harus dijawab setiap orang bukanlah, "Apakah aku ingin hidup yang lebih baik?" Semua orang menginginkan itu.
Pertanyaan yang sesungguhnya adalah:
Di manakah aku mencari kehidupan itu?
Jika kehidupan dicari di dalam dunia, hasil akhirnya adalah kekosongan dan kebinasaan.
Tetapi jika kehidupan dicari di dalam Kristus, maka di dalam Dia ditemukan pengampunan, damai sejahtera, sukacita, tujuan hidup, dan pengharapan yang kekal.
Sebab hanya Kristus yang dapat berkata:
"Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan."
Soli Deo Gloria
Komentar
Posting Komentar