HIDUP ADALAH KESEMPATAN

 HIDUP ADALAH KESEMPATAN


Teks: Efesus 5:15–17 (TB)


“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”


PENDAHULUAN


Setiap manusia menerima satu pemberian yang sama dari Allah setiap hari, yaitu waktu. Orang kaya dan orang miskin menerima jumlah waktu yang sama. Orang yang berkuasa dan orang yang sederhana menerima dua puluh empat jam yang sama setiap hari. Tidak ada seorang pun yang dapat menambah waktunya, menyimpan waktunya, atau membeli kembali waktu yang telah berlalu.


Namun meskipun semua manusia menerima waktu yang sama, tidak semua manusia menggunakan hidupnya dengan cara yang sama. Ada yang menghabiskan hidup untuk hal-hal yang kekal, sementara yang lain menghabiskan hidup untuk hal-hal yang akan lenyap. Ada yang memandang hidup sebagai kesempatan untuk memuliakan Allah, sementara yang lain memandang hidup hanya sebagai kesempatan untuk memuaskan dirinya sendiri.


Di tengah dunia yang sibuk dan penuh distraksi, manusia sering lupa bahwa hidup tidak berlangsung selamanya. Setiap hari yang berlalu adalah bagian dari kehidupan yang tidak akan pernah kembali. Setiap kesempatan yang dilewatkan adalah bagian dari waktu yang telah hilang untuk selamanya.


Karena itu Paulus menulis kepada jemaat di Efesus agar mereka hidup dengan bijaksana dan mempergunakan waktu yang ada. Nasihat ini bukan sekadar ajakan untuk menjadi lebih produktif. Paulus sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam. Ia sedang mengajarkan bagaimana orang percaya harus menjalani hidup di bawah pemerintahan Allah.


Melalui bagian ini kita akan melihat tiga kebenaran penting. Pertama, hidup adalah anugerah yang harus dipertanggungjawabkan. Kedua, waktu adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Ketiga, tujuan hidup yang sejati adalah melakukan kehendak Allah.


I. HIDUP ADALAH ANUGERAH YANG HARUS DIPERTANGGUNGJAWABKAN


Paulus membuka bagian ini dengan sebuah peringatan:


“Perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup.”


Kalimat ini menunjukkan bahwa kehidupan tidak boleh dijalani secara sembarangan. Ada cara hidup yang bijaksana dan ada cara hidup yang bodoh. Ada kehidupan yang berkenan kepada Allah dan ada kehidupan yang menyia-nyiakan anugerah-Nya.


Di sinilah Alkitab mengajarkan sesuatu yang sering dilupakan manusia. Hidup bukan milik kita. Hidup adalah pemberian Allah.


Manusia modern cenderung berpikir bahwa dirinya adalah pemilik mutlak atas hidupnya. Karena itu ia merasa bebas menentukan arah hidupnya tanpa mempertimbangkan kehendak Tuhan. Namun Alkitab mengajarkan bahwa manusia adalah ciptaan, bukan pencipta. Nafas yang kita hirup hari ini berasal dari Allah. Kekuatan yang kita miliki berasal dari Allah. Kesempatan yang kita nikmati berasal dari Allah.


Jika hidup adalah pemberian Allah, maka hidup juga merupakan sebuah kepercayaan yang harus dipertanggungjawabkan kepada-Nya.


Setiap talenta yang diberikan Tuhan akan dimintai pertanggungjawaban.


Setiap kesempatan yang diberikan Tuhan akan diperhitungkan.


Setiap hari yang kita jalani memiliki nilai di hadapan Allah.


Kesadaran ini mengubah cara pandang kita terhadap kehidupan. Hidup bukan sekadar rangkaian hari yang harus dilewati. Hidup adalah amanat yang dipercayakan Allah kepada manusia untuk dijalankan bagi kemuliaan-Nya.


Karena itu pertanyaan yang penting bukanlah berapa lama seseorang hidup, tetapi bagaimana ia menggunakan hidup yang diberikan kepadanya.


Pemahaman ini membawa kita kepada pelajaran berikutnya. Jika hidup adalah amanat dari Allah, maka waktu yang ada di dalam hidup tersebut memiliki nilai yang sangat besar.


II. WAKTU ADALAH KESEMPATAN YANG TIDAK BOLEH DISIA-SIAKAN


Paulus berkata:


“Pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.”


Ungkapan yang dipakai Paulus memiliki arti memanfaatkan setiap kesempatan yang tersedia dengan sebaik-baiknya. Ia sedang mengajarkan bahwa waktu bukan sesuatu yang netral. Waktu adalah kesempatan yang diberikan Allah untuk melaksanakan tujuan-Nya.


Masalahnya, manusia sering hidup seolah-olah waktu tidak terbatas. Banyak orang berpikir masih ada kesempatan nanti. Masih ada waktu untuk bertobat. Masih ada waktu untuk melayani. Masih ada waktu untuk hidup sungguh-sungguh bagi Tuhan.


Namun kenyataannya tidak demikian.


Setiap detik yang berlalu tidak pernah kembali.


Setiap hari yang lewat menjadi bagian dari masa lalu.


Setiap kesempatan yang diabaikan mungkin tidak akan datang lagi.


Inilah sebabnya Alkitab berulang kali mengingatkan tentang singkatnya hidup manusia. Hidup digambarkan seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Hidup digambarkan seperti rumput yang pagi hari bertumbuh dan pada petang hari menjadi layu.


Paulus tidak sedang mengajarkan agar orang percaya hidup dalam ketakutan. Ia sedang mengajarkan agar mereka hidup dengan kesadaran akan nilai waktu.


Banyak orang menyia-nyiakan hidup bukan karena melakukan dosa-dosa besar, tetapi karena menghabiskan hidup untuk hal-hal yang tidak memiliki nilai kekal. Mereka begitu sibuk mengumpulkan hal-hal sementara sehingga lupa mempersiapkan diri untuk kekekalan.


Hari ini dunia menawarkan berbagai gangguan yang dapat menghabiskan waktu tanpa makna. Berjam-jam dapat berlalu tanpa menghasilkan sesuatu yang berguna bagi pertumbuhan rohani maupun kemuliaan Allah.


Karena itu orang percaya dipanggil untuk hidup dengan kesadaran bahwa setiap hari adalah kesempatan yang diberikan Tuhan. Kesempatan untuk bertumbuh. Kesempatan untuk melayani. Kesempatan untuk mengasihi. Kesempatan untuk memberitakan Injil. Kesempatan untuk memuliakan Allah.


Namun jika hidup adalah kesempatan, maka muncul pertanyaan yang lebih penting lagi: kesempatan untuk apa?


Jawaban Paulus membawa kita kepada inti dari seluruh pembahasan ini.


III. HIDUP ADALAH KESEMPATAN UNTUK MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH


Paulus melanjutkan:


“Janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”


Di sinilah tujuan hidup yang sesungguhnya dinyatakan.


Banyak orang menganggap tujuan hidup adalah keberhasilan, kekayaan, pencapaian, atau kenyamanan. Namun Alkitab mengajarkan bahwa tujuan utama manusia adalah mengenal Allah, memuliakan-Nya, dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya.


Karena itu hidup yang berhasil menurut Alkitab tidak selalu identik dengan hidup yang terkenal atau kaya. Hidup yang berhasil adalah hidup yang setia menjalankan kehendak Allah.


Inilah yang membedakan cara pandang orang percaya dari cara pandang dunia.


Dunia bertanya:


"Apa yang ingin aku capai?"


Firman Tuhan bertanya:


"Apa yang Tuhan kehendaki dariku?"


Dunia berkata:


"Bagaimana aku bisa mendapatkan lebih banyak?"


Firman Tuhan berkata:


"Bagaimana aku dapat lebih memuliakan Allah?"


Dunia mengukur hidup dari pencapaian sementara.


Allah mengukur hidup dari kesetiaan.


Ketika seseorang memahami hal ini, seluruh hidupnya akan berubah. Pendidikan menjadi kesempatan untuk memuliakan Tuhan. Pekerjaan menjadi kesempatan untuk melayani Tuhan. Keluarga menjadi kesempatan untuk menyatakan kasih Tuhan. Bahkan penderitaan sekalipun menjadi kesempatan untuk menunjukkan kesetiaan kepada Tuhan.


Pada akhirnya, hidup bukanlah tentang membangun nama besar bagi diri sendiri. Hidup adalah tentang memuliakan nama Allah selama kesempatan itu masih diberikan.


Dan teladan terbesar dari kehidupan yang demikian adalah Kristus sendiri. Selama hidup-Nya di bumi, Ia menggunakan setiap momen untuk melakukan kehendak Bapa. Tidak ada satu hari pun yang disia-siakan. Tidak ada satu tugas pun yang diabaikan. Ia hidup dengan sempurna bagi kemuliaan Allah dan menyelesaikan seluruh pekerjaan yang dipercayakan kepada-Nya.


Karena karya Kristus itulah orang percaya menerima hidup yang baru dan dipanggil untuk menggunakan hidup tersebut bagi tujuan yang sama.


PENUTUP


Efesus 5:15–17 mengingatkan bahwa hidup bukanlah sesuatu yang boleh dijalani tanpa arah.


Hidup adalah anugerah yang harus dipertanggungjawabkan.


Waktu adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan.


Dan tujuan hidup yang sejati adalah melakukan kehendak Allah.


Pada akhirnya, hidup yang panjang belum tentu hidup yang berarti. Hidup yang berarti adalah hidup yang digunakan bagi kemuliaan Tuhan.


Suatu hari setiap manusia akan berdiri di hadapan Allah dan memberikan pertanggungjawaban atas hidup yang telah dijalaninya. Pada hari itu, yang akan bernilai bukanlah seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, melainkan seberapa setia hidup dijalankan sesuai dengan kehendak Allah.


Karena itu selama Tuhan masih memberikan nafas kehidupan, selama kesempatan itu masih ada, gunakanlah hidup ini untuk perkara-perkara yang kekal.


Sebab hidup bukan sekadar perjalanan menuju kematian.


Hidup adalah kesempatan yang diberikan Allah untuk mengenal-Nya, melayani-Nya, dan memuliakan-Nya sampai selama-lamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BERLARI SAMPAI GARIS AKHIR