HATI YANG DIGERAKKAN OLEH BELAS KASIHAN

 HATI YANG DIGERAKKAN OLEH BELAS KASIHAN


Teks: Matius 9:35–38


"Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: 'Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.'"


PENDAHULUAN


Di zaman ini, manusia hidup dalam dunia yang semakin terhubung, tetapi pada saat yang sama semakin kehilangan kepedulian yang sejati. Informasi tentang penderitaan dapat ditemukan setiap hari. Berita tentang kemiskinan, ketidakadilan, peperangan, kehancuran keluarga, dan kehidupan yang hancur oleh dosa memenuhi layar-layar yang kita lihat. Namun ironisnya, semakin sering manusia melihat penderitaan, semakin mudah hatinya menjadi kebal terhadap penderitaan itu.


Banyak orang mengetahui masalah dunia, tetapi sedikit yang sungguh-sungguh peduli. Banyak yang mampu melihat kesusahan orang lain, tetapi tidak tergerak untuk melakukan apa pun. Tidak sedikit pula yang sibuk dengan kehidupannya sendiri sehingga kehilangan kepekaan terhadap kebutuhan sesamanya.


Dalam keadaan seperti inilah Injil memperlihatkan kepada kita hati Kristus. Ketika Yesus melihat orang banyak, Ia tidak melihat sekadar kerumunan manusia. Ia melihat jiwa-jiwa yang sedang binasa. Ia melihat manusia yang tersesat, terluka oleh dosa, dan hidup tanpa arah. Dan Alkitab berkata bahwa ketika Ia melihat mereka, "tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan."


Ungkapan ini membuka jendela yang sangat dalam untuk melihat karakter Kristus. Kita tidak hanya melihat apa yang dilakukan-Nya, tetapi juga apa yang ada di dalam hati-Nya. Belas kasihan Kristus bukanlah perasaan sentimental yang sesaat. Belas kasihan itu lahir dari kasih Allah yang sempurna terhadap manusia yang tidak layak menerimanya.


Melalui bagian ini kita akan melihat tiga kebenaran penting. Pertama, belas kasihan Kristus lahir dari cara-Nya memandang manusia. Kedua, belas kasihan Kristus dinyatakan melalui tindakan penyelamatan. Ketiga, belas kasihan Kristus memanggil orang percaya untuk mengambil bagian dalam pekerjaan-Nya.


I. BELAS KASIHAN KRISTUS LAHIR DARI CARA-NYA MEMANDANG MANUSIA


Matius mencatat bahwa ketika Yesus melihat orang banyak, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan karena mereka "lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala."


Perhatikan bahwa belas kasihan Kristus dimulai dari apa yang Ia lihat. Namun Ia melihat lebih dalam daripada apa yang dapat dilihat oleh mata manusia biasa. Orang banyak mungkin melihat kerumunan. Para pemimpin agama mungkin melihat angka. Dunia mungkin melihat potensi ekonomi atau kekuatan politik. Tetapi Kristus melihat kondisi rohani manusia yang sesungguhnya.


Ia melihat manusia yang telah dirusak oleh dosa. Ia melihat manusia yang kehilangan arah hidup. Ia melihat manusia yang terpisah dari Allah. Ia melihat manusia yang sedang menuju kebinasaan kekal.


Gambaran "domba tanpa gembala" menunjukkan kondisi yang sangat menyedihkan. Domba adalah hewan yang lemah dan mudah tersesat. Tanpa gembala, mereka tidak memiliki perlindungan, tidak memiliki arah, dan tidak memiliki harapan untuk bertahan hidup.


Demikianlah keadaan manusia di luar Allah.


Sering kali dunia menggambarkan manusia sebagai makhluk yang kuat, mandiri, dan mampu menentukan nasibnya sendiri. Namun Alkitab memberikan gambaran yang berbeda. Manusia berdosa bukanlah manusia yang bebas. Ia adalah manusia yang terikat oleh dosa, tersesat dari jalan Allah, dan tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.


Inilah sebabnya Kristus berbelas kasihan. Belas kasihan-Nya bukan muncul karena manusia layak dikasihani, tetapi karena manusia benar-benar berada dalam kondisi yang menyedihkan akibat dosa.


Ketika seseorang mulai melihat manusia sebagaimana Kristus melihat mereka, hatinya akan berubah. Ia tidak lagi memandang orang lain hanya berdasarkan status, pendidikan, kekayaan, atau latar belakang mereka. Ia mulai melihat bahwa di balik semua itu terdapat jiwa yang membutuhkan Allah.


Namun belas kasihan Kristus tidak berhenti pada perasaan. Belas kasihan yang sejati selalu bergerak menuju tindakan.


II. BELAS KASIHAN KRISTUS DINYATAKAN MELALUI TINDAKAN PENYELAMATAN


Sebelum Matius mencatat bahwa hati Yesus tergerak oleh belas kasihan, ia terlebih dahulu menggambarkan bagaimana Yesus berkeliling ke kota-kota dan desa-desa, mengajar, memberitakan Injil Kerajaan Allah, serta menyembuhkan berbagai penyakit.


Urutan ini sangat penting.


Belas kasihan Kristus bukanlah emosi pasif. Belas kasihan itu menghasilkan tindakan nyata. Ia datang kepada mereka yang membutuhkan. Ia mengajar mereka yang hidup dalam kegelapan. Ia menjangkau mereka yang tersisih. Ia memberitakan kabar keselamatan kepada mereka yang sedang binasa.


Di sinilah kita melihat perbedaan antara belas kasihan manusia dan belas kasihan Kristus.


Sering kali manusia merasa iba, tetapi tidak bertindak. Sering kali manusia tersentuh, tetapi tidak berkorban.


Sering kali manusia berkata bahwa ia peduli, tetapi tidak melakukan apa pun untuk menolong.


Sebaliknya, belas kasihan Kristus selalu bergerak.


Bahkan puncak belas kasihan itu terlihat di kayu salib. Kristus tidak hanya merasa kasihan kepada manusia berdosa. Ia datang ke dunia untuk menanggung hukuman dosa mereka. Ia menyerahkan diri-Nya sebagai korban penebusan agar mereka yang seharusnya menerima murka Allah dapat menerima pengampunan dan hidup yang kekal.


Inilah bentuk belas kasihan terbesar yang pernah dinyatakan dalam sejarah.


Belas kasihan Kristus tidak mengabaikan keadilan Allah. Sebaliknya, di salib kita melihat kasih dan keadilan Allah bertemu dengan sempurna. Hukuman atas dosa benar-benar dijalankan, tetapi dijalankan atas Kristus yang menggantikan umat-Nya.


Karena itu, kebutuhan terbesar manusia bukan pertama-tama perubahan keadaan hidupnya. Kebutuhan terbesar manusia adalah diperdamaikan dengan Allah melalui Kristus.


Dan ketika seseorang mengalami belas kasihan Kristus secara pribadi, ia tidak mungkin tetap hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ia akan dipanggil untuk mengambil bagian dalam pekerjaan Kristus.


III. BELAS KASIHAN KRISTUS MEMANGGIL KITA UNTUK TERLIBAT DALAM PEKERJAAN-NYA


Setelah melihat orang banyak, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:


"Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit."


Pernyataan ini menunjukkan bahwa belas kasihan Kristus tidak hanya mengungkapkan kondisi manusia, tetapi juga menunjukkan kebutuhan yang mendesak.


Dunia dipenuhi oleh orang-orang yang membutuhkan Injil.


Dunia dipenuhi oleh jiwa-jiwa yang sedang berjalan menuju kebinasaan.


Dunia dipenuhi oleh orang-orang yang hidup tanpa mengenal Sang Gembala yang sejati.


Namun Yesus tidak meminta murid-murid-Nya sekadar mengagumi situasi itu. Ia memanggil mereka untuk terlibat.


Menariknya, sebelum mengutus pekerja, Yesus terlebih dahulu memerintahkan mereka untuk berdoa kepada Tuhan yang empunya tuaian. Dengan demikian Kristus mengingatkan bahwa pekerjaan keselamatan pada akhirnya adalah pekerjaan Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah hati manusia selain Allah sendiri.


Namun kedaulatan Allah tidak pernah menjadi alasan untuk pasif. Justru karena Allah bekerja, umat-Nya dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya.


Belas kasihan yang sejati akan menghasilkan doa. Belas kasihan yang sejati akan menghasilkan pelayanan. Belas kasihan yang sejati akan menghasilkan kerinduan agar semakin banyak orang mengenal Kristus.


Ketika gereja kehilangan belas kasihan, gereja akan sibuk dengan dirinya sendiri. Ketika orang percaya kehilangan belas kasihan, mereka akan hidup hanya untuk kenyamanan mereka sendiri. Namun ketika hati digerakkan oleh belas kasihan Kristus, fokus hidup akan berubah. Mereka mulai melihat dunia sebagaimana Kristus melihat dunia.


Mereka mulai merasakan apa yang Kristus rasakan. Mereka mulai mengasihi apa yang Kristus kasihi. Dan mereka mulai terlibat dalam apa yang Kristus kerjakan.


PENUTUP


Matius 9:35–38 membawa kita melihat hati Sang Juruselamat.


Kristus melihat manusia yang tersesat dan hati-Nya tergerak oleh belas kasihan.


Belas kasihan itu tidak berhenti pada perasaan, tetapi dinyatakan melalui karya penyelamatan yang mencapai puncaknya di kayu salib.


Dan belas kasihan yang sama memanggil setiap orang percaya untuk mengambil bagian dalam pekerjaan-Nya di dunia ini.


Pertanyaannya bukan hanya apakah kita pernah menerima belas kasihan Kristus.


Pertanyaannya adalah apakah hati kita mulai menyerupai hati Kristus.


Apakah kita masih mampu melihat orang-orang di sekitar kita dengan belas kasihan?


Apakah kita masih memiliki kerinduan agar jiwa-jiwa mengenal Kristus?


Apakah hidup kita sedang dipakai untuk membawa orang lain kepada Sang Gembala yang Baik?


Kiranya Tuhan membentuk hati yang semakin serupa dengan hati Kristus, sehingga kita tidak hanya menikmati belas kasihan-Nya, tetapi juga menjadi alat yang dipakai-Nya untuk menyatakan belas kasihan itu kepada dunia yang sedang binasa.


Soli Deo Gloria.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BERLARI SAMPAI GARIS AKHIR